Monday, April 8, 2013

ibu seperti apa nanti?

ketika membawa pulang keponakan saya yang berumur 9 tahun jalan, sempat terlintas kalimat "beginikah rasanya nanti saat saya benar-benar membawa anak saya sendiri jalan-jalan?"

menggenggam jemarinya supaya tetap berada tetap dalam perlindungan saya ketika sedang berjalan di keramaian, memberitahunya banyak hal yang sepanjang perjalanan selalu bertanya 'ini apa?' 'itu apa?' 'yang ini buat apa?' 'kenapa bisa begitu?'

mengajarinya tentang lampu lalu lintas saat akan menyebrang di lampu merah, kemudian memberitahunya menggunakan angkutan umum yang mana untuk sampai ke rumah.

kemudian mengajaknya makan malam dengan bertanya "kamu mau makan apa?" lalu kemudian memilih tempat makan yang menjual makanan favoritnya. melihatnya makan dengan lahap karena terlalu lelah bermain, membayangkan akan menjadi apa saat ia besar nanti. mendengarkanya bercerita mengenai teman-temannya di sekolah. kadang harus terpaksa tersenyum untuk menghargainya karena cerita yang diceritakannya tidak lucu tapi menurutnya lucu.

akan menjadi ibu yang seperti apa ya nanti ? hhhmmm..

what do I really want?

Bertemu dengan teman SMA setelah 6 tahun adalah saat dimana kita akan bercerita dan ditanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti, “lu sekarang kerja dimana?” , “lu udah menikah? Atau udah punya anak?”

Begitu juga kemarin, saya menemukan hal yang sama. Dengan alasan ingin memberikan sesuatu, saya bertemu dengan teman SMA yang baru saja pulang dari Australia.

Berpelukan sambil berteriak adalah hal pertama yang kami lakukan. Lalu memperhatikan penampilannya dari kepala sampai kaki.

“Kok lu jadi kurus? Kok bisa? Terakhir ketemu kan lu masih gendut?” kata saya selalu ceplas ceplos dengan teman saya yang satu ini.

Teman saya tertawa dan malu-malu. Lalu kemudian dia kaget. “Lu udah punya anak?” katanya ketika melihat saya membawa keponakan saya ikut dalam pertemuan ini.

Saya tertawa dan berkata menceritakan ketidak sengajaan saya membawa keponakan saya.

“Gue pikir, lama nggak ketemu lu udah punya anak aja.” Katanya.


Kami langsung masuk ke dalam pembicaraan banyak hal mulai dari kenangan SMA, sang kekasih dan kehidupan yang dijalani setelah lulus SMA. Rasanya nggak pernah keabisan bahan obrolan.

Sampai tiba-tiba saya bertanya “lu mau  ngapain abis pulang dari Aussie?”

“Gue pengen nikah aja. Nunggu dilamar.” Katanya

Saya terbelalak. “NIKAH? Waaahh!”

Dia mengangguk dengan pastinya.

Ternyata keinginan teman saya ini dari SMA ini belum berubah. Dia masih tetap dengan rencanya yang ingin menjadi ibu rumah tangga saja dan memiliki usaha di rumah.

Lalu saya, saya ingin apa sebenarnya untuk diri saya sendiri? Hhmm.