Iya, mungkin ini agak sedikit terlambat, tapi lumayanlah daripada tidak sama sekali.
"Knowledge is a Power" ini kata-kata power dari akun @bidankita di Instgramnya. Well, it is!
Menjelang 7 bulan, kehamilan baru nemu akun ini dan mulai stalking-in bener-bener. Karena disana banyak menjelaskan mengenai melahirkan tanpa trauma. Idaman banget kan buat saya yang baru pertama akan melahirkan.
Mulai searching-searching juga apa itu gentle birth, persiapan melahirkan, hal-hal tentang hak-hak kita sebagai pasien dan lain-lain. Sampai akhirnya saya beli birthing ball yang Masya Alloh ngebantu banget saat rasa-rasa ngga nyaman seperti sakit pinggang, sakit punggung datang, pas lagi kontraksi palsu juga pake ini OK banget. Kemudian beli buku #BebasTakut Hamil dan Melahirkan yang berisi banyak hal bermanfaat untuk kepentingan lahiran normal yang less pain dan trauma.
Tapi karena beli di masa-masa injury time jadinya ngga terlalu banyak nangkep mengenai ajaran2 posisi yoga yang berguna untuk dilatih setiap harinya.
Back to topic, kenapa finally ganti ke bidan. Di buku itu ada beberapa semacam tips dan petunjuk hak-hak pasien yang bisa ditanyain ke-dalam hal ini- saya tanyakan ke rumah sakit dan dSognya. Ini lebih ke mempertimbangkan banyak hal mulai dari budget dan beberapa hal yang ingin kami dapatkan pasca kelahiran. Dan tips-tips ini masuk akal juga sih menurut saya. Hehehe..
Ketika nanya ke bagian rumah sakit mengenai biaya, ini penting juga bagi kami. Awalnya saya dan suami sudah fixed akan memilih melahirkan di RS dengan budget yang memang sudah kami siapkan. Namun ketika bertanya mengenai berbagai kemungkinan keadaan ketika akan melahirkan, info dari RS biaya yang akan kami bayarkan lebih dari apa yang sudah kami pertimbangkan. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan kami.
Kemudian hal lainnya yang menjadi pertimbangan, berapa lama waktu IMD, pemotongan tali pusat dan apakah bisa si bayik satu kamar dengan ibunya ini juga kemudian membuat kami akhirnya mencari alternatif bidan untuk melahirkan, karena jawaban mereka tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Ya walaupun semua jawabannya memang merupakan SOP biasa di RS.
Hal selanjutnya yang kemudian menjadi pertimbangan akhir kami pindah ke bidan adalah dari segi tim untuk melahirkan. Jawaban dSognya tidak memuaskan kami yang newbie ini. So, finally we change.
Mencari bidan-bidan pro gentle birth di Depok itu Alhamdulillah mudah, dekat, di Citayam. Letaknya dekat stasiun. Namun mengingat situasi dan kondisi daerah Stasiun Citayam itu selalu ramai, macet dan crowded ngga jelas, kami tidak memilih bidan tersebut. Sampai akhirnya ada adik ipar yang kemudian memberi info bahwa anak bungsunya itu lahir di Bidan yang pro gentle birth. OK datanglah kami kesana namanya Bidan Hartati, kliniknya di Jl. H. Montong Jagakarsa.
Pertama kali datang kesana, udah pasti beda banget sama RS yaa dari segi administrasi. Saya dan suami bertemu dengan bidan junior yang sedang jaga saat itu, dengan ramah ditanya mau ngapain, kenapa dan lain-lain. Lalu kemudian saya perut saya diperiksa pakai dopler untuk mengecek denyut jantung bayi saya. Awal datang kesana selalu hal-hal positif yang tersampaikan. Beruntungnya saya juga bertemu dengan Bidan Hartatinya langsung dan bisa mengobrol banyak. Sama., beliau juga positif.
Ya, akan melahirkan itu memang harus selalu positif jadi kenanya ke pikiran itu tenang dan damai. hahaha.
Next kontrol, Jumat minggu depan sekalian USG jam 17.00 katanya, karena UK yang sudah menua diharuskan datang seminggu sekali. OK, Kami akan datang minggu depan.
Minggu depannya, setelah menunggu hampir 2 jam, dokter USG tak kunjung datang dan dipastikan dia memang tidak datang, jadwal USG berubah jadi Jumat minggu depannya lagi.
Minggu depannya sang suami tidak bisa mendampingi karena ada tugas luar kota, akhirnya memintalah adik untuk mengantar. Ketika datang, rasa bersalah dari bidan junior itu datang lagi.. hahaha.. akhirnya saya dicek dopler lagi dan bonus cek dalam oleh Bidan Hartati. And guess what? udah pembukaan 1 katanya.
Deg.. deg.. deg...