Sunday, August 19, 2018

Saatnya Berubah ! [Berubah dari dSoG ke Bidan] - Gentle Birth and She is Finally Arrived.. My Baby [Part1]

Why?

Iya, mungkin ini agak sedikit terlambat, tapi lumayanlah daripada tidak sama sekali.

"Knowledge is a Power" ini kata-kata power dari akun @bidankita di Instgramnya. Well, it is!

Menjelang 7 bulan, kehamilan baru nemu akun ini dan mulai stalking-in bener-bener. Karena disana banyak menjelaskan mengenai melahirkan tanpa trauma. Idaman banget kan buat saya yang baru pertama akan melahirkan.

Mulai searching-searching juga apa itu gentle birth, persiapan melahirkan, hal-hal tentang hak-hak kita sebagai pasien dan lain-lain. Sampai akhirnya saya beli birthing ball yang Masya Alloh ngebantu banget saat rasa-rasa ngga nyaman seperti sakit pinggang, sakit punggung datang, pas lagi kontraksi palsu juga pake ini OK banget. Kemudian beli buku  #BebasTakut Hamil dan Melahirkan yang berisi banyak hal bermanfaat untuk kepentingan lahiran normal yang less pain dan trauma.

Tapi karena beli di masa-masa injury time jadinya ngga terlalu banyak nangkep mengenai ajaran2 posisi yoga yang berguna untuk dilatih setiap harinya.

Back to topic, kenapa finally ganti ke bidan. Di buku itu ada beberapa semacam tips dan petunjuk hak-hak pasien yang bisa ditanyain ke-dalam hal ini- saya tanyakan ke rumah sakit dan dSognya. Ini lebih ke mempertimbangkan banyak hal mulai dari budget dan beberapa hal yang ingin kami dapatkan pasca kelahiran. Dan tips-tips ini masuk akal juga sih menurut saya. Hehehe..

Ketika nanya ke bagian rumah sakit mengenai biaya, ini penting juga bagi kami. Awalnya saya dan suami sudah fixed akan memilih melahirkan di RS dengan budget yang memang sudah kami siapkan. Namun ketika bertanya mengenai berbagai kemungkinan keadaan ketika akan melahirkan, info dari RS biaya yang akan kami bayarkan lebih dari apa yang sudah kami pertimbangkan. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan kami.

Kemudian hal lainnya yang menjadi pertimbangan, berapa lama waktu IMD, pemotongan tali pusat dan apakah bisa si bayik satu kamar dengan ibunya ini juga kemudian membuat kami akhirnya mencari alternatif bidan untuk melahirkan, karena jawaban mereka tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Ya walaupun semua jawabannya memang merupakan SOP biasa di RS.

Hal selanjutnya yang kemudian menjadi pertimbangan akhir kami pindah ke bidan adalah dari segi tim untuk melahirkan. Jawaban dSognya tidak memuaskan kami yang newbie ini. So, finally we change.

Mencari bidan-bidan pro gentle birth di Depok itu Alhamdulillah mudah, dekat, di Citayam. Letaknya dekat stasiun. Namun mengingat situasi dan kondisi daerah Stasiun Citayam itu selalu ramai, macet dan crowded ngga jelas, kami tidak memilih bidan tersebut. Sampai akhirnya ada adik ipar yang kemudian memberi info bahwa anak bungsunya itu lahir di Bidan yang pro  gentle birth. OK datanglah kami kesana namanya Bidan Hartati, kliniknya di Jl. H. Montong Jagakarsa.

Pertama kali datang kesana, udah pasti beda banget sama RS yaa dari segi administrasi. Saya dan suami bertemu dengan bidan junior yang sedang jaga saat itu, dengan ramah ditanya mau ngapain, kenapa dan lain-lain. Lalu kemudian saya perut saya diperiksa pakai dopler untuk mengecek denyut jantung bayi saya. Awal datang kesana selalu hal-hal positif yang tersampaikan. Beruntungnya saya juga bertemu dengan Bidan Hartatinya langsung dan bisa mengobrol banyak. Sama., beliau juga positif.

Ya, akan melahirkan itu memang harus selalu positif jadi kenanya ke pikiran itu tenang dan damai. hahaha.

Next kontrol, Jumat minggu depan sekalian USG jam 17.00 katanya, karena UK yang sudah menua diharuskan datang seminggu sekali. OK, Kami akan datang minggu depan.

Minggu depannya, setelah menunggu hampir 2 jam, dokter USG tak kunjung datang dan dipastikan dia memang tidak datang, jadwal USG berubah jadi Jumat minggu depannya lagi.

Minggu depannya sang suami tidak bisa mendampingi karena ada tugas luar kota, akhirnya memintalah adik untuk mengantar. Ketika datang, rasa bersalah dari bidan junior itu datang lagi.. hahaha.. akhirnya saya dicek dopler lagi dan bonus cek dalam oleh Bidan Hartati. And guess what? udah pembukaan 1 katanya.

Deg.. deg.. deg...


Monday, April 23, 2018

I Knew I Loved You Before I Met You (Part 3 Final)

Minggu demi minggu lewat, segala rasa mual muntah dijalanin saja.

Mual muntah bisa terjadi semaunya si bayik, kapan saja dan dimana saja. Tapi Alhamdulillaah, untuk bayik no 3 ini, very cooperative. Kami selalu bernegosiasi kapan harus mengeluarkan muntahan walaupun rasa mual bisa datang ketika dimana saja. Jadi tetap bisa bersih walaupun harus berdiam lama sebentar di tempat muntah. Ah.. ini menyenangkan kok, walaupun lemas.


Thank you bayik, for being soo cooperative. Love You!


Di setiap bulan kami kontrol, beberapa jam sebelum ke rumah sakit, entah kenapa kami pasti saling diam, sampai akhirnya kontrol selesai, baru kami bisa tertawa dengan tingkah si bayik yang gerak-gerak saat liat di USG.


Yaah.. nervous yang tak ada habis-habisnya, selalu berdoa dan berusaha agar si bayik di dalam perut ini sehat selalu, tumbuh dan berkembang sampai akhirnya nanti ia dilahirkan.


Yang bikin amazed akhir-akhir ini adalah rasa bahagia saat tendangan atau gerakan tangan yang terasa di perut. Masya Alloh.. ini indah banget.. rasa gerakan perut -bukan kita yang kontrol-. Biasanya kan yang kerasa itu kalau lagi laper, atau kembung, atau mules pengen pup. Ini bisa ada gerakan saat lagi duduk di kereta, duduk di kantor sambil kerja, atau ketika lagi rebahan menjelang tidur malam, ini waktu yang paling sering terasa aktif gerakannya dan kemudian membuat kita akhirnya selalu mengobrol.

Iya, saya kadang seperti orang gila yang bicara dengan perut ketika di keramaian.. Itu seru apalagi ketika si bayik merespon dengan tendangan atau gerakan tangannya (ini saya masih belum bisa membedakan). Bahkan kadang-kadang suami saya yang nyahut saat saya sedang bicara dengan bayik. Hahahaha...


Oh iya, tentang jenis kelamin ini cerita yang menyenangkan dengan entah kesoktauan kami, entah feeling kami tepat, entah apaa.. (karena yang sesungguhnya akan diketahui ketika bayik ini lahir.)


Jadi, dari semenjak hamil saya tipe yang tidak suka dandan, malas dan ya gitulah.. cuek.. (walaupun memang ngga hamilpun saya seperti itulah kurang lebih) jadi suami berpikir mungkin bayi kami laki-laki, begitu juga saya. Tapi ketika kontrol Bulan Maret yang menginjak usia 5 Bulan, dokter bilang bayiknya perempuan.. lalu shock lah kami semua.. hahahhahaaha..
"Bayik, apapun jenis kelamin kamu nanti, laki-laki atau perempuan, kami akan dengan bahagia menyambutmu."
Sampai akhirnya di setiap ia sedang bergerak di dalam perut dan kami berbicara, terkadang saya bertanya,
"Bayik di dalam perut ini laki-laki atau perempuan?"
Terkadang ia akan diam saat ditanya kedua jenis kelamin itu, terkadang ia menendang saat ditanyakan ia laki-laki. Mungkin bosan dengan pertanyaan saya yang hanya itu-itu saja..

Kontrol selanjutnya, semoga semakin jelas yaa.. bayiknya laki-laki atau perempuan..

"Bayik.. nanti pas di USG, diliatin ya jenis kelaminnya.. biar bisa disiap-siapin sayang."

Love you, Bayik..


Mama dan Ayah.

Thursday, April 19, 2018

I Knew I Loved You Before I Met You (Part 2)

"Kamu kapan mau ke dokter, ay?" Abang tanya suatu malam saat kita lagi santai pulang kantor.
"Kamu bisanya kapan?" tanya aku balik.

Haha.. ujungnya kami sama- sama ngaku kalau kami trauma denger hasil USG di kedua kehamilan kemarin.

Tapi akhirnya kami bersepakat untuk datang dan menguatkan hati kami, yaa.. Alloh ada sama kita terus kan.. Bismillah..

Kami bertemu dengan dr. Puji Spog, di RS Permata Depok, yang jaraknya hanya sekitar 2-3 km dari rumah kami. Dokternya ramah dan ya mencoba mengerti apa yang diinginkan pasien. USG lagi transvaginal dan hasilnya ukuran sesuai dengan usia kandungan. Alhamdulillaah..

Nanya-nanya banyak hal dan dokter dengan sabarnya menjawab dan memberikan berbagai vitamin untuk si bayik dan ibunya. Ngobrol banyaklah sampai akhirnya dr. nya ngasih no WA untuk bisa di curhatin kalau ada keluhaan.. Ah,, dokter.. berkahlaah yaa prakteknyaa.. ilmunya dan hidupnya..


Keluar dari ruang periksa.. baru deh kita saling bertatap muka dan tersenyum..


Suami kembali menjadi overprotective.. wajarlah.. sedangkan saya malah lebih santai namun tetap berhati-hati dengan apa yang ada di dalam perut ini.

"Bayik.. sehat-sehat terus ya, Nak.."

Setiap akan ke dokter itu selalu saja ada hal yang bikin nervous. Mulai dari tetiba lelah, tetiba ada rasa-rasa ngga biasa di perut, naik tangga yang kepikiran ini udah kebanyakan ngga ya naiknya atau turunnya, karena bekerja naik kereta dan di stasiun itu tangga otomatis belum optimal pelayanannya, dan lain-lainnya yang sebenarnya di usia-usia hamil muda memang normal terjadi. Seperti di saat usia kandungan sampai di 11weeks, tetiba ada rasa kedutan di perut kanan sebelah bawah.

Awalnya parno mulai cek-cek website dan tidak ada penjelasan yang memuaskan.. Tapi saya selalu positive thinking bahwa selama tidak ada flek atau sesuatu yang keluar dari jalan lahir, Insya Alloh itu hanya bagian dari proses pertumbuhan bayik yang ada di dalam perut saya. Sampai akhirnya saya cerita ke Suami dan dia menyarankan untuk tanya langsung dokternya.

Subhanalloh wal Hamdulillah.. jawaban dokter malah bikin kita Happy!

"dok, ketika saya kerja, ada rasa kedutan di perut sebelah kanan itu kenapa ya?"
"kecapean ngga?"
"ngga."
"itu mah bayinya lagi gerak kali, pokonya kalau capek langsung rebahan dan istrahat aja ya"

Waaah.. seketika langsung ngabarin suami dan dikasihnyalah emot 😍😍😍. Sempat ga percaya kalau itu bayi, karena kalau baca-baca artiket gerakan bayi baru terasa di usia 4-5 bulan katanya.

"dok , ini baru 11 minggu, masa udah gerak?" tanya saya ga percaya
"iiih... bayi itu dalam perut selalu bergerak, cuma ga kerasa, jadi kalau hari ini kerasa dinikmatin aja.. itu bayinya lagi seneng kali." jawab dokternya gemes.
Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah..  Ngga tau lagi mau ngomong apa pokonya.. Alhamdulillah sekarang malah ketagihan sama alat USG, rasanya pengen punya sendiri supaya bisa lihat bayik kapan aja di perut.


Ya Alloh, selalu bantu hamba menjaga segala KaruniaMu ya Alloh... aaamiin...


Nanti lanjut lagi yaa di part3..




I Knew I Loved You Before I Met You

Mungkin begitu kalimat yang akan terucap saat kita memang mencintai seseorang bahkan sebelum kita ketemu sama orang itu.


Bayik! I Love You My Bayiks..


November 2016, bayi pertama lahir di usianya yang baru 16weeks.. Love you, Sayang.. I'll never forget you.. please come to me and your dad when we met later ya, Sayangnya mama...


July 2017, bayi kedua lahir di usianya yang baru 12 weeks.. I do also love you, Nak.. Kita kumpul-kumpul lagi nanti di SurgaNya ya.. Insya Alloh..


Yang pertama memang tidak akan pernah terlupakan, tapi untuk bayik-bayik ini.. ke yang berapapun tidak akan pernah terlupakan, Insya Alloh...


Percayalah, semua hal yang terjadi di dalam hidup ini memang sudah tercatat di Lauhil MahfuzNya ALLOH.. memiliki suami yang bervisi sama lebih memudahkan saat hal berat datang.

Untuk saya yang baru pertama kali menikmati indahnya hamil muda, segala morning sickness, mual-mual, dan lainnya.. harus menerima kenyataan bahwa.. it is not the time.. Mungkin Alloh mau nyampein seperti ini...



"Fin, Wan, gitu lho rasanya liat testpack garis 2.. gitu lho rasanya morning sickness.. gambarannya dulu aja ya, punya bayiknya nanti dulu."


Dan kalimat inipun dikatakan oleh Suami saya saat rasa down muncul. OK.. makin in love, Bang.. *kisskiss


and its not only one time.. kebahagiaan liat testpack 2 garis itu muncul lagi 3 bulan kemudian.. OK maybe this is the time, menurut kita.. tapi.. Alloh bilang ngga dulu lagi.

Iya.. lagi-lagi berusaha sabar dan ingat semua akan indah pada waktunya.. Insya Alloh...


Punya suami baik, keluarga yang sabar juga, teman-teman kantor juga yang support karena harus izin berlama-lama untuk bedrest di 2 keguguran itu. It was a blessing. Ini bagian dari counting nikmat Alloh yang ngga boleh dilupain. Alhamdulillah...

3-4 Bulan kemudian.. Alloh kasih lagi kebahagiaan liat garis merah 2.. Alhamdulillah Wa Syukurillaah..

Bayik ke-3. Lebih rileks, lebih santai ngadepinnya, even lebih nervous dan sedikit trauma sama alat USG sesungguhnya. hehehehe..

Sampai beberapa minggu setelah liat testpack 2 garis, kami belum berencana pergi ke Obsgyn, ini lebih seperti deep down inside our mind itu nervous asli kalau harus tau hasil USG.. hahaha.. sampai akhirnya hitungan kalender kena di angka minggu ke 8 akhirnya kita pergilah ke Obgyn, dengan berbagai pertimbangan akan ke dokter yang mana dan lain-lain. Sampai akhirnya. OK.. ke dokter pertama kali kita cek aja dan di RS terdekat dengan rumah.



To be continue ya.. di part 2..