Berteman dengan banyak kalangan, selalu ada saja yang membuat saya ingin seperti mereka jika menurut saya itu baik.
Kali ini adalah saya ingin mendapatkan beasiswa keluar negeri untuk sekolah atau hanya untuk kursus-kursus singkat saja. Salah satu teman saya senangi sedang merasakan hal itu. Semenjak beberapa bulan yang lalu, dia sudah menetap di Scotlandia, UK untuk melanjutkan sekolahnya dengan gratis.
Ditambah lagi yang membuat ingin adalah keluarga kecilnyapun ikut disana. Sehingga rasa kesepianpun hilang.
Di laman facebooknya kerap kali ia meng upload berbagai foto yang membuat saya yang melihatnya ingin pergi kesana.
Well, suatu hari nanti semoga kesempatan itu akan datang.
aamiin..
Monday, November 25, 2013
Thursday, November 21, 2013
Apply Visa Cambodia
Sebagai seorang administrasi, salah satu tugas saya adalah membantu expert melancarkan pekerjaannya. Salah satunya adalah pengajuan Visa untuk perjalanan dinasnya ke negara lain. Kali ini negaranya adalah Kamboja.
Pekerjaan ini menambah pengalaman saya khususnya untuk sesuatu yang berhubungan dengan perjalanan. Dan ini menyenangkan!
Bagaimana mengajukan Visa ke Kamboja? Selama kita masih berwarga negara Indonesia, kita di gratiskan Visa ke negara tersebut, karena masih satu negara ASEAN.
berhubung bos saya berkewarganegaraan Jepang, beliau wajib mengajukan Visa.
berikut adalah persyaratan pengajuan Visa yang saya dapatkan dari petugas Kedutaan besar Kamboja di Jakarta yang beralamat di :
Jl. Pejaten Barat no 41
Jakarta Selatan 12550
Tel : 021-781-2523/ fax : 021-781-2524
1. Foto 4x6 3 lembar (backround warna boleh apa saja)
2. Copy ticket pulang pergi (wajib)
3. Surat sponsor
4. Undangan (Untuk perjalanan bisnis)
5. Pasppor asli
6. Membayar biaya sebesar Rp 300,000 (untuk turis wisata), Rp 375,000 (untuk perjalanan bisnis)
Jika semua persyaratan sudah dipenuhi, proses dikeluarkannya Visa selesai dalam 5 (lima) hari kerja.
Info penting yang mungkin berguna. Karena boss saya menggunakan passpor dinas, biaya yang saya sebutkan tadi dihilangkan alias gratis !
Tambahan lainnya, kalau cuma mau jalan-jalan aja sih (selain warga negara ASEAN), Visa juga bisa di apply via online di link berikut : http://www.evisa-cambodia.net/application_m.php
Selamat Jalan-jalan !
Friday, August 30, 2013
Yogyakarta Trip [Bagian Kedua]
Perjalanan hari pertama dimulai dengan saya diajak berjalan kaki ke entah dimana. Saya hanya mengikuti teman saya berjalan, di awal dia bertanya "Lu mau ala backpacker apa ala orang kaya?"
Tentu saja saya menjawab "Backpackerlaaah!" kemudian dia mengangguk dan tersenyum "OK, Backpacker ya."
Dan benar saja, saya benar-benar diajak berjalan dan tidak menerima keluhan. Khusus hari ini saya harus mengikutinya kemanapun dia mengajak. Setelah sekitar 20 menit, melewati jalan tikus, kami keluar dan melewati sebuah jembatan menuju Malioboro. Dari sana saya sudah mulai melihat-lihat tulisan Malioboro dalam tulisan Sansekerta.
Antara percaya dan tidak percaya telah menginjak Jogja, saya masih melihat-lihat di satu titik sampai teman saya kembali ke tempat dimana saya diam dan menarik saya untuk kembali berjalan. Dia mengajak saya untuk segera sarapan, walaupun kami sudah banyak melewati tukang makanan, dia tetap mengajak saya melewati Malioboro dan mengajak saya mengunjungi Pasar Beringharjo untuk mencoba soto khas Jawa.
Saat diberikan semangkuk soto, saya langsung protes. "Saya mau sarapan banyak, gamau air doank"
lalu dia tersenyum dan menyuruh saya mengaduknya. Ternyata nasinya sudah berada dibawah kuah soto itu. Dan dengan lahap saya menyantap makanan itu ditemani dengan es kelapa.
Lanjut perjalanan kami berjalan lagi ke daerah Museum Verdburg yang terkenal itu saya melihat kesemua tempat yang berisi berbagai sejarah-sejarah Indonesia. berjalan lagi ke arah istana kesultanan, kami terus berjalan mengunjungi berbagai museum di sekitar wilayah kesultanan. Dan kemudian mengajak saya ke tempat pemandian raja dan ratu jaman dahulu (saya lupa namanya)
Selepas dari sana, dengan berjalan atau dengan transjogja yang murah meriah dan kadang-kadang becak, kami berjalan menuju ke Kota Gede. Melihat-lihat mesjid besar dan sekitar-sekitar sana. Tidak lupa mencicipi sedikit makanan disana. Lalu pergi menuju hotel yang sudah dibooking sebelumnya. http://ceritacarita.blogspot.com/2013/03/hotel-murah-di-yogyakarta.html
Menaruh barang, lalu ganti baju dan kembali meluncur untuk menikmati suasana malam Malioboro. Mencari makan malam nasi gudeg dan lain-lain, lalu melihat atraksi-atraksi malam yang katanya teman saya sih dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa.
Setelah makan malam, dan berjalan-jalan kamipun berpisah. Teman saya pulang, dan saya kembali ke hotel untuk beristirahat.
Tentu saja saya menjawab "Backpackerlaaah!" kemudian dia mengangguk dan tersenyum "OK, Backpacker ya."
Dan benar saja, saya benar-benar diajak berjalan dan tidak menerima keluhan. Khusus hari ini saya harus mengikutinya kemanapun dia mengajak. Setelah sekitar 20 menit, melewati jalan tikus, kami keluar dan melewati sebuah jembatan menuju Malioboro. Dari sana saya sudah mulai melihat-lihat tulisan Malioboro dalam tulisan Sansekerta.
Antara percaya dan tidak percaya telah menginjak Jogja, saya masih melihat-lihat di satu titik sampai teman saya kembali ke tempat dimana saya diam dan menarik saya untuk kembali berjalan. Dia mengajak saya untuk segera sarapan, walaupun kami sudah banyak melewati tukang makanan, dia tetap mengajak saya melewati Malioboro dan mengajak saya mengunjungi Pasar Beringharjo untuk mencoba soto khas Jawa.
Saat diberikan semangkuk soto, saya langsung protes. "Saya mau sarapan banyak, gamau air doank"
lalu dia tersenyum dan menyuruh saya mengaduknya. Ternyata nasinya sudah berada dibawah kuah soto itu. Dan dengan lahap saya menyantap makanan itu ditemani dengan es kelapa.
Lanjut perjalanan kami berjalan lagi ke daerah Museum Verdburg yang terkenal itu saya melihat kesemua tempat yang berisi berbagai sejarah-sejarah Indonesia. berjalan lagi ke arah istana kesultanan, kami terus berjalan mengunjungi berbagai museum di sekitar wilayah kesultanan. Dan kemudian mengajak saya ke tempat pemandian raja dan ratu jaman dahulu (saya lupa namanya)
Selepas dari sana, dengan berjalan atau dengan transjogja yang murah meriah dan kadang-kadang becak, kami berjalan menuju ke Kota Gede. Melihat-lihat mesjid besar dan sekitar-sekitar sana. Tidak lupa mencicipi sedikit makanan disana. Lalu pergi menuju hotel yang sudah dibooking sebelumnya. http://ceritacarita.blogspot.com/2013/03/hotel-murah-di-yogyakarta.html
Menaruh barang, lalu ganti baju dan kembali meluncur untuk menikmati suasana malam Malioboro. Mencari makan malam nasi gudeg dan lain-lain, lalu melihat atraksi-atraksi malam yang katanya teman saya sih dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa.
Setelah makan malam, dan berjalan-jalan kamipun berpisah. Teman saya pulang, dan saya kembali ke hotel untuk beristirahat.
Tuesday, August 27, 2013
My 25th
So, sampailah di usia ini. Dua Puluh Lima.
Rasanya 25 itu begini, anehnya masih tetap saja merasa seperti usia 22 atau 23. Masih sama menyenangkan, belum pusing-pusing amat mikirin ini itu (mungkin seharusnya sudah mulai kali ya?)
Di beberapa tahun yang lalu sering mendengar dan memperbincangkan bagaimana rasanya berusia 25 tahun. Katanya di usia ini, para perempuan sedang didorong oleh orang-orang terdekatnya untuk menikah.
Pembicaraan itu ternyata benar, walaupun didorong untuk menikah sudah dari sebelum umur 25. Tapi rasanya, ternyata tidak begitu menakutkan untuk menjadi perempuan berusia 25 tahun. Dengan perkembangan waktu yang (entah bagaimana menyebutkannya) umur 25 sepertinya tidak lagi menjadi batasan umur harus seorang perempuan segera menikah,karena menikah itu bisa kapan saja, tidak harus berumur 25 tahun ;)
Dan sekarang menjadi perempuan berumur 25 tahun masih tetap saja merasa paling muda, karena di kantor teman-teman sudah berumur jauh di atas saya. Jadi always enjoy my life, mau berapapun umurnya. Dan selalu get do the best in manya things. Makin harus banyak belajar untuk jadi manusia lebih baik lagi.
Happy 25th Birthday, Me !
Rasanya 25 itu begini, anehnya masih tetap saja merasa seperti usia 22 atau 23. Masih sama menyenangkan, belum pusing-pusing amat mikirin ini itu (mungkin seharusnya sudah mulai kali ya?)
Di beberapa tahun yang lalu sering mendengar dan memperbincangkan bagaimana rasanya berusia 25 tahun. Katanya di usia ini, para perempuan sedang didorong oleh orang-orang terdekatnya untuk menikah.
Pembicaraan itu ternyata benar, walaupun didorong untuk menikah sudah dari sebelum umur 25. Tapi rasanya, ternyata tidak begitu menakutkan untuk menjadi perempuan berusia 25 tahun. Dengan perkembangan waktu yang (entah bagaimana menyebutkannya) umur 25 sepertinya tidak lagi menjadi batasan umur harus seorang perempuan segera menikah,karena menikah itu bisa kapan saja, tidak harus berumur 25 tahun ;)
Dan sekarang menjadi perempuan berumur 25 tahun masih tetap saja merasa paling muda, karena di kantor teman-teman sudah berumur jauh di atas saya. Jadi always enjoy my life, mau berapapun umurnya. Dan selalu get do the best in manya things. Makin harus banyak belajar untuk jadi manusia lebih baik lagi.
Happy 25th Birthday, Me !
Tuesday, May 14, 2013
'May Day' Trip (Last day)
Tujuan saya ke Malaysia itu adalah salah satunya ingin
mengetahui bagaimana indahnya Masjid Jamek. Seperti biasa pagi hari saya
berjalan lagi sendiri. Kali ini lebih pagi sekitar jam 6. Bertanya ke petugas
hotel, ternyata jaraknya tidak jauh, jadi saya memutuskan untuk berjalan kaki
saja.
Di Malaysia ternyata jam 6 itu bener-bener masih sepi, saya
tidak begitu banyak melihat orang berlalu lalang, hanya satu dua di setiap blok
jalan. Masih ngerasa aman aja pokoknya akhirnya satya meneruskan jalan pagi ini. Papasan sama orang
Jember dari Indonesia waktu nanya lagi dimana letak Mesjid Jamek. Lalu beliau
menyarankan untuk sekedar jalan-jalan ke Dataran Merdeka katanya, yang ia
tunjuki dimana letaknya.
Sampai di Mesjid Jamek ternyata sedang ditutup ada perbaikan
bangunan rupanya. Disana bertemu bapak yang keluar dari masjid, lalu bertanya kepada saya "kamu sendiri?" untuk pertama kalinya seseorang mengingatkan saya agar berhati-hati. Karena katanya di wilayah itu banyak pencopet. Tapi yasudah.. saya tetap meneruskan perjalanan sendiri ini.
Lanjut jalan lagi menuju Dataran Merdeka,
masih dengan rasa aman walaupun jalanan sepiii banget saat itu, nggak ada
curiga apa-apa. Sampai di Dataran Merdeka, ternyata banyak yang tidur di
pinggir-pinggir jalan begitu juga, wah mulai khawatir, tapi tetap masih ngerasa
aman.
Liat ada museum baru, coba tanya-tanya sama satpam orang
India yang jaga disitu, dia baik sampai ngasih tiket free guide museum dan
beberapa gedung di sekitarnya. Tapi sayang museum baru buka jam 10 saya nggak
bisa ngejar lagi kesana, karena harus siap-siap balik ke Indonesia.
Sambil istirahat sebentar ngobrol-ngobrol dengan Satpam
tersebut, ngeliat matanya, tatapan agak menyeramkan sih, jadi nggak kontak mata
terus. Dia mengingatkan katanya hati-hati jalan pagi-pagi di KL, masih banyak
orang mabuk yang suka tidur di pinggir jalan. Jengjeeeeeng!!! Mulai makin
khawatir.
Akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke hotel aja. Pas
mau nyebrang, ada bapak-bapak yang tanya dengan bahasa Melayu yang nggak saya
ngerti setelahnya kami mengobrol sebentar, beliau ternyata orang Semarang.
Lagi-lagi diingatkan untuk berhati-hati jalan-jalan di Malaysia sendirian
pagi-pagi. Alasannya sama. Makin deeh khawatirnya naik menjadi rasa takut.
Ditunjukin jalan terdekat menuju hotel, saya mengikutinya.
Dan ternyata malah lewat lorong-lorong dan pinggiran sungai. Ada beberapa orang
yang tidur di pinggir jembatan, dan orang-orang India yang sedang bergerombol
menakutkan.
Agak berlari terus menuju jalan hotel, setelah dekat dengan
jalan menuju hotel orang-orang sudah mulai terlihat berlalu lalang. Ketemu
dengan turis asal Jepang yang lagi sendirian, karena nggak mungkin menggunak
free ticket tadi, saya berikanlah kepadanya. Dan map KL yang sedang ia
cari-cari.
Setelah sampai di hotel, saya tidak ke kamar. Minum teh
tubruk sebentar di pinggir hotel. Kemudian berjalan-jalan lagi di sekitar sana.
Saya menemukan ada pasar pagi yang menjual barang-barang murah, tapi ada barang
seken juga. Sepertinya mereka hanya berjualan sampai jam 9 pagi. Mulai dari
pulpen sampai HP Iphone ada disana. Yang pasti harus nawar.
Mulai lelah akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel. Saat
sedang berjalan, tiba-tiba rasanya ada yang mengikuti dari belakang, orang
India, tinggi, besar dan agak hitam. Rasa takut mulai menyerang, tapi mencoba
tetap tenang karena situasi sudah mulai ramai. Karena dia terus mendekat
akhirnya saya berhenti dan dia mendekat. Dengan bahasa melayu yang kental dia
bilang “Saya baru di KL, Hotel kamu dimana?”
Makin curiga saya bilang “Saya juga baru, dan saya tidak
tahu” lalu kemudian ngacir. Ternyata orang India itu masih mengikuti. Gawat
kalau saya masih terus menggunakan jalan yang tadi. Akhirnya saya balik arah
dan mulai berlari menuju hotel. Berlari secepatnya sampai akhirnya ia
kehilangan saya. Sampai di kamar dengan keringat bercucuran dana badan yang
masih bergetar barulah saya merasa aman. Fiuhh..
Ternyata KL tidak seaman itu, intinya adalah dimanapun kita
berada memang harus selalu ada rasa tidak aman. Jadi berhati-hatilah.
Setelah Check-out kami menuju KL Sentral lalu menggunakan
Aerobus kembali menuju LCCT. Dan kembali pulang ke Indonesia tercinta.
'May Day' Trip (Day 3)
Perjalanan kami di hari ketiga semakin lebih santai, istirahat
yang cukup membuat fresh di pagi harinya. Hari ketiga ini saya sarankan kepada
teman saya dan mamahnya, bahwa kami akan check out sekitar jam 11 lalu menuju
hotel di sekitar Chinatown.
Di pagi harinya, saya mengganti kebiasaan saya yang tadi
malam saya tidak lakukan. Saya jalan-jalan pagi sekitar jam 8 pagi sendirian
mengelilingi daerah sekitar Bukit Bintang. Saya berjalan ke Bintang Walk,
memutar-mutar saja tak ada tujuan, sampai akhirnya sampai juga ke Berjaya Time
Square,melihat ibu-ibu yang berjualan makanan untuk sarapan di pagi hari.
Dengan berjalan pagi itu juga akhirnya saya menemukan halte
bus GO Bus KL yang gratis itu yang ternyata melewati hotel kami di daerah Chinatown.
Bukit
Bintang-Chinatown
Menggunakan GOBus KL dari halte Ain Arabia kami akhirnya
turun di depan hotel kami selanjutnya. Dragon Inn Premium Hotel , letaknya
tepat di samping Petaling Street. Stelah Check in dan taruh barang kami mulai
mengekspolarasi daerah kembali, sambil berjalan menuju LRT kami melewati jalan
Petaling Street yang ramai banget orang jualan, untuk beli oleh-oleh tempat ini
cocok banget.
Chinatown-Twin Tower
Hari ketiga ini kami menggunakan GO BUS KL yang gratis
menuju Twin tower yang terkenal itu. Naik dari Pasar Seni kami transit di Bukit
Bintang. Karena GoBus KL ini ada dua line. Purple line dan Green Line. Dari
Pasar Seni kami menggunakan Purple Line, dari Bukit Bintang kami transit
menggunakan Green Line lalu menuju Twin tower.
Liat-liat dan makan siang di mall Suria KLCC karena ada
Bumbu Desa disana, Dian dan mamahnya sudah kangen masakan Indonesia. Tetap saja
bukan di Indonesia memang, rasanya beda aja. Setelah berfoto-foto disana.
Menjelang sore kami kembali menjelajahi ke kawasan Chinatown menggunakan GO BUS
KL menuju Central Market. Untuk mulai
berburu oleh-oleh.
Setelahnya kembali lagi ke hotel untuk beristirahat.
'May Day' Trip (Day 2)
Bukit Bintang- KL
Sentral
Karena kita sendiri yang atur perjalanan, perjalanan hari
kedua kami mulai agak siang sekitar jam 10 kami check out dari My Hotel
tersebut. Berdasarkan informasi, katanya My Hotel lebih dekat ke stasiun
monorail Imbi, dan setelah dilalui ternyata benar saja. Dan (lagi) hotelnya Kak
Nur teman dari Indonesia kemarin ternyata tidak jauh dari hotel kita.
YA AMPUUUNN!!! Dengan muka sebal sama diri masing-masing
kita tunjukkan, udahnya kami tertawa kembali.
KL Sentral-Genting
Highland
Dari Stasiun Imbi kami bertolak ke Stasiun KL Sentral
kembali untuk melakukan perjalanan ke Genting Highland. Dengan tiket seharga
10.30RM untuk dewasa kami kebagian tiket yang jam 12.30. tiketnya sudah
termasuk naik kereta gantung ke Gentingnya langsung. Jika menggunakan bus ini memang pakai sistem antri jadi
semakin pagi datang, semakin pagi lagi dapet tiket bus nya.
Perjalanan ke Genting Highland itu sampai terminalnya itu
sekitar satu jam setengah, jalanannya mirip puncak nanjak-nanjak berkelok-kelok
gitu. Sepanjang perjalanan pohon-pohon sudah bisa terlihat, beberapa hotel juga
banyak disepanjang perjalanan menuju Genting. melihat beberapa jalan disana rasanya seperti 'de javu' saya pernah memimpikannya :)
Sampai di terminal, bangunannya terkesan bangunan sepi,
kalau bilangnya terminal sih menurut saya tidak seperti di Indonesia yang ramai
orang, pedagang, calo tiket bahkan. Karena sudah tertib mungkin jadinya sepi. agak bingung juga mau tanya, petugasnya seperti yg tidak ingin ditanya.
Turun dari bus, nggak ngerti harus kemana sebenarnya untuk
naik kereta gantungnya, karena tidak terlihat orang ramai naik kereta gantung, bahkan kereta gantungnya aja nggak
keliatan. Setelah bertanya kepada petugas kebersihan yang ada disitu, ternyata di sebelah
sisi dalam bangunan itu ada lift yang mengantarkan kita ke tempat kereta
gantung. Gak ada sign sama sekali,jadi kalau belum pernah ya wajib nanya.
Letaknya berada di lantai 3, setelah itu barulah ada sign
yang bisa kita ikutin sampai akhirnya kita sampai untuk menggunakan kereta
gantung itu. Oiya untuk informasi, ternyata di dalam gedung itu layaknya mall,
ramai dan banyak toko-toko gitu. Saya yakin sih ada pintu masuk lain
sebenarnya. Entah dimana.
Tibalah saatnya kita menaiki kereta gantung ini, untuk saya
pribadi ini pertama kalinya naik kereta gantung. Di dalam kereta selain kami
bertiga ada 2 laki-laki lagi yang ikut serta. Memulai perjalanan, rasanya udah
deg-degan aja. Pemandangan yang terlihat langsung hutan, kami berada di atas
hutan. Kami bertiga sih ribut, ya biasalah kami memang suka heboh dimanapun.
Beda dengan dua laki-laki yang duduk dibelakang kami, mereka
kalem-kalem aja tuh, hehe. Melihat beberapa ujung seperti akan berakhir
ternyata nggak sama sekali berakhir. Jalurnya ternyata panjaaang banget,
denger-denger sih terpanjang se-Asia Tenggara. Daebak! Kereta masih terus aja jalan sampai kita masuk ke dalam
kabut dan ngga keliatan apa-apa, sempet serem juga sih, tapi ternyata setelah
melewati kabut, kami sampai di perhentian.
Turun, lalu bergegas mulai berkeliling. Banyak restaurant
halal dan non halal dengan harga yang menurut saya waktu itu sih mahal, karena
harus hemat. Masih ada dua hari lagi soalnya. Setelah berjalan-jalan kami
menemukan KFC yang harganya bersahabat dengan kantong. Akhirnya makan siang
dulu disana.
Jalan-jalan lagi ke theme park indoor nya, mall yang berisi
tempat-tempat permainannya juga bahkan ada snow world segala. Kita keliling-keliling
aja sambil sedikit-sedikit jajan camilan yang ada.
Genting
Highland-Kuala Lumpur-KLCC-Bukit Bintang
Sekitar jam 4 sore kami memutuskan untuk kembali ke Kuala
Lumpur menggunakan bus, karena mamahnya teman saya agak ngeri kalau balik pake
kereta gantung lagi. Dengan harga 6RM kami menggunakan bus menuju stasiun
monorail Triwangsa, ini salah satu alternatif jalan menuju Genting Highland.
Sampai di Triwangsa, kita main ke KLCC dulu pake LRT turun
di stasiun Dang Wangi langsung sampai ke KLCC Suria mall. Mampir sebentar,
karena hujan kami langsung balik lagi menuju Bukit Bintang untuk mendapatkan
hotel. Di hari kedua ini kita memang sengaja nyari hotel on the spot. Hotel
Iris Garden menjadi pilihan kami.
Hotelnya lumayan menyenangkan juga, hanya saja agak ribut dari kamar sebeblah pada saat itu.
Lumayan lelah perjalanan hari ini,saya memutuskan untuk
langsung istirahat di malam hari ini. Sedangkan Dian dan mamahnya sempat berjalan-jalan si sekitar hotel.
‘May Day’ Trip ( Day 1)
In front of Terminal 3 Soeta
Bertepatan
dengan Hari Buruh sedunia, saya melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur, Malaysia
bersama dengan teman saya, Dian dan ibunya sebagai hadiah ulang tahun untuk ibunya.
Karena
sudah banyak gossip akan ada demo besar-besaran buruh di Jakarta, saya
berangkat dari Bogor menuju Bandara Soeta sudah dari jam 7 pagi. Lebih baik nunggu
daripada ditinggal pesawat kan?
Sampe
di Bandara jam setengah 10 pagi. Ketika menunggu Dian dan ibunya datang,
seorang ibu paruh baya menarik tangan saya dan berkata dengan bahasa agak
Padang-Padang gitu. Ketika saya tanya ‘ada apa?’ beliau malah menyodorkan
handphonenya dan berkata “telepon Buyuang.”
Akhirnya
dengan sok tahunya berpikir mungkin beliau minta diteleponin ke anaknya. Dan
saya membantunya. Dan sedikit mengobrol, ternyata beliau datang dari
Bali dan akan menuju rumah anaknya yang ada di daerah Petamburan.
Ketika
saya sedikit bergeser untuk melihat taksi yang datang, beliau menarik tangan
saya.mungkin beliau pikir saya akan meninggalkannya. Akhirnya saya mendekatkan
diri kembali dengannya agar tidak merasa saya tinggalkan.
Tidak
lama sebelum teman saya datang, ternyata anaknya datang beserta cucunya dan
disambut senang sekali oleh ibu tersebut. Melihat pemandangan itu barulah saya
berpamitan dan menuju teman saya untuk segera masuk ke Departure area.
Before Departure
Masuk
ke dalam sekitar jam 10, kami bertiga menuju tempat yang menjual makanan untuk
menikmati BRUNCH kami. Sayang sekali makanannya tidak begitu memanjakan lidah,
hanya membuat perut kenyang saja. Tepat selesai makan, gate menuju waiting room
sudah dibuka. Kami mengantri di bagian imigrasi untuk menuju waiting room area.
Sekitar
setengah jam menunggu, kami bertiga mengobrol ngalor ngidul untuk membunuh
waktu. Kebetulan keberangkatan kali ini agak terlambat sekitar 15 menit. Untung
nggak sampe 2 jam, kalau iya Airasia musti bayar ganti rugi tuh ma kita,hehe.
Oiya,
sebelum masuk menuju pesawat kami sempat membeli kopi di coffee machine yang
ada di sekitar Zone 4. Sayang sekali uang Rp 5000 kami ditelan begitu saja
tanpa ada kopi yang keluar dari mesin tersebut. Mau complain bingung kemana,
karena tidak ada penjaganya. Jadii.. yasudahlah.
Beralih
ke mesin di sebelahnya dengan menggunakan uang 10.000 (harus bagus dan nggak
lecek baru mau ditelen sama mesinnya) barulah kami berhasil mendapatkan dua cup
kopi.
Depart and Arrive
Masuk
lewat Gate B menuju pesawat, kami rasa diburu-buru. Mungkin karena mereka
ngejar waktu keterlambatan. Saya dan mamah teman saya tukar tempat duduk agar
beliau bisa duduk bersebelahan dengan anaknya. Duduk di tempat yag terpisah,
saya kemudian berkenalan dengan orang Indonesia yang akan jalan-jalan di
Malaysia dan Singapur bersama dengan adiknya. Ia bernama Nurul.
Perjalanan
yang menghabiskan waktu sekitar 2 jam, saya habiskan setengahnya dengan
tertidur untuk mengembalikan sedikit tenaga dan waktu tidur yang kurang. Hehe.
Setengah
jam menuju landing, saya kembali mengobrol dengan teman sebelah saya dan
bersepakat untuk berjalan bersama menuju hotel kami masing-masing setelah di
Malaysia. Seperti tour guide yang diandalkan padahal belum pernah sama sekali
ke Kuala Lumpur.
Sampai
di LCCT (Low Cost Carier Terminal), Bandara yang masih bagian dari KLIA (Kuala
Lumpur International Airport) tapi letaknya sangat berjauhan. Kami mengantri di
imigrasi. Ketika pemeriksaan passport mamah teman saya, dan dua teman lainnya
harus menempelkan sidik jarinya, sedangkan saya dan teman saya Dian tidak
diminta (entah kenapa alasannya). Imigrasinya dibagi dua, foreigner passport
dan Malaysian passport.
Mendengar
cerita dari teman-teman, katanya ketika masuk imigrasi bagi yang berkerudung
itu agak ribet prosesnya dan selalu dianggap TKW sehingga teman saya
menyarankan agar berlaku agak sombong dan menggunakan kerudung agak elegan (padahal
saya bingung yang elegan itu yang bagaimana, hehe.) Tapi Alhamdulillah ketika
masuk imigrasi ke Malaysia, saya tidak
dipersulit.
LCCT-KL Sentral
Keluar
dari LCCT, kami mencari loket yang menjual tiket bus. Saya terlalu tinggi
membayangkan loket bus di Malaysia, jadi ketika melihat loket bus disana yang
terbuat dari kayu-kayu yang ukurannya juga ngga gede membuat saya curiga, ini
calo apa bukan ya? Karena katanya mendengar Kuala Lumpur itu sudah lebih maju
dari Jakarta. Akhirnya kami menggunakan Aerobus menuju KL Sentral (pusat
transportasi di Malaysia) dengan harga 8RM (Kurs 1RM Rp3200, tahun 2013).
Berdasarkan informasi yang sudah kami dapatkan dari berbagai blog, menuju hotel
kami masing-masing memang harus menuju KL Sentral lalu naik monorail. Sepanjang
jalan menuju KL Sentral pemandangan yang bisa dilihat dari kanan kiri jalan
tolnya adalah pohon sawit. hmmm...
Hal
yang membuat saya penasaran di sepanjang jalan yag seperti tol itu adalah, motor bisa masuk (beberapa motor
terlihat di jalan menuju KL Sentral)
KL Sentral-My Hotel, Bukit Bintang.
Banyak
pilihan transportasi yang bisa digunakan ketika sudah di KL Sentral, dari KL
Sentral bus stasion, kami berjalan mencari stasiun monorail. Entah karena
sedang ada pembangunan atau memang sudah begitu, untuk menuju ke KL Sentral
Monorail stasion itu kami harus berjalan keluar dari terminal keluar dan
menyebrang. Letaknya berada di ujung jalan Little India dan ngumpet. Kalau
nggak ngeuh pasti kelewat. Dan bertanya adalah suatu kewajiban saat itu.
Bagusnya kami bertemu dengan orang Malaysia campuran orang Batak. Walaupun
suaranya keras dan menakutkan, beliau dengan sangat jelas memberitahu letak
stasiun itu.
Harga
karcisnya tergantung dari stasiun yang dituju, kembali sok tahu karena kami
akan menuju My Hotel yang berada di Bukit Bintang, kami turunlah di stasiun
Bukit Bintang dengan harga tiket 2.10RM. Oiya, Nurul dan adiknya turun terlebih
dahulu di 1 stasiun sebelum Bukit Bintang yaitu Imbi Stasiun.
Dari
stasiun Bukit Bintang ternyata lumayan berjalan agak jauh sekitar 10 menit
menuju My Hotel itu. Agak deg-degan perjalanan kali ini, karena harus
memperhatikan kondisi mamahnya teman saya juga.
Dengan melewati jalanan yang sedang diperbaiki untuk pembuatan MRT kami
akhirnya sampai di My Hotel. Kamarnya
menyenangkan, bersih, staffnya ramah. Recommended hotel lah. Kami memesannya
via Agoda.com 2 hari sebelumnya.
Sesampainya
di hotel, kami beristirahat sejenak lalu mandi dan siap-siap menjelajahi daerah
sekitar. Pertama kami membiarkan sang ibu istirahat lebih lama. Saya berdua
dengan Dian berjalan di daerah sekitar yang ujungnya tembus ke Jalan Alor
ternyata, tempatnya makan. Tempatnya
rame dengan penjual makanan, kebanyakan makanan adalah Chinese food. Terus
berjalan, saya menemukan tempat makan ala carte dengan ada tulisan halalnya. Hehe,
maklumlah rada hati-hati nyari makanan. Disini banyak banget yang jual makanan
halal. Jadi nggak khawatir banget sebenarnya. Dengan hanya membayar 8RM saya makan
nasi pake daging kari dan teh tarik dan air mineral 600ml.
Melihat
toko tersebut menjual permen saya penasaran pengen nyoba. Dengan 40sen saya
dapet 6 biji.
Kembali
berkeliling, saya dan Dian melihat beberapa makanan unik yang harus kami
nikmati bertiga. Menjemput sang ibu, kami kembali ke jalan tersebut dan
menikmati makanan yang lain. Karena Dian dan ibunya doyan kuliner, kami memesan
seafood kali ini dan tumis kangkung.
Lagi-lagi
makanannya biasa banget. Selesai makan kami berjalan lagi. Dian dan ibunya
membeli daging babi lapis, yang menurut mereka enak. Saya tidak mencobanya.
Lalu kami mencoba es krim turkey yang penyajiannya dengan atraksi si penjual
karena es krimnya begitu pekat. Si penjualnya begitu interaktif dengan
pembelinya dan sesekali menggoda pembelinya dengan pura-pura menjatuhkan es
krimnya yang tidak jatuh dari cone nya.
Selesai
makan es krim, lagi-lagi kedua ibu dan anak itu membeli durian dengan harga
15RM,dan mencoba kue China seharga 1RM. Full sudah perut kami, dan kami
kemudian memutuskan untuk kembali ke Hotel dan beristirahat setelah sebelumnya
menghabiskan dulu durian yang dibeli. J
Thursday, May 2, 2013
When You Just Have To Hold On
Hold On! Santai aja.
Sebuah perjalanan itu nggak harus selalu lancar, kadang harus nyasar, kudu dua kali balik ke tempat dan jalur yang sama sampai menemukan tempat yang kita cari. Itu tuh nggak apa-apa banget. perjalanan itu akan memberikan pengalaman atau pelajaran kepada si pelakunya. Entah apapun itu, karena hanya si pelakunyalah yang akan merasakannya sendiri.
Perjalanan kali ini kembali membuat saya mempelajari sesuatu. The most important thing dari semuanya adalah kesabaran dan toleransi. dan Hold on feeling :) makanya dengan banyak melakukan perjalanan entah itu sendiri ataupun dengan orang lain, perasaan Hold on ini terbentuk dengan sangat baik walaupun dalam situasi yang kurang menyenangkan.
But everything will be allright. And I know that.. karena saya memahami setiap orang yang melakukan perjalanan dengan saya, apalagi sahabat sendiri. Well, let's continue the trip !
Well, Hold on! sekarang waktunya bobo dulu :)
*11.56 p.m waktu Malaysia*
Sebuah perjalanan itu nggak harus selalu lancar, kadang harus nyasar, kudu dua kali balik ke tempat dan jalur yang sama sampai menemukan tempat yang kita cari. Itu tuh nggak apa-apa banget. perjalanan itu akan memberikan pengalaman atau pelajaran kepada si pelakunya. Entah apapun itu, karena hanya si pelakunyalah yang akan merasakannya sendiri.
Perjalanan kali ini kembali membuat saya mempelajari sesuatu. The most important thing dari semuanya adalah kesabaran dan toleransi. dan Hold on feeling :) makanya dengan banyak melakukan perjalanan entah itu sendiri ataupun dengan orang lain, perasaan Hold on ini terbentuk dengan sangat baik walaupun dalam situasi yang kurang menyenangkan.
But everything will be allright. And I know that.. karena saya memahami setiap orang yang melakukan perjalanan dengan saya, apalagi sahabat sendiri. Well, let's continue the trip !
Well, Hold on! sekarang waktunya bobo dulu :)
*11.56 p.m waktu Malaysia*
Monday, April 8, 2013
ibu seperti apa nanti?
ketika membawa pulang keponakan saya yang berumur 9 tahun jalan, sempat terlintas kalimat "beginikah rasanya nanti saat saya benar-benar membawa anak saya sendiri jalan-jalan?"
menggenggam jemarinya supaya tetap berada tetap dalam perlindungan saya ketika sedang berjalan di keramaian, memberitahunya banyak hal yang sepanjang perjalanan selalu bertanya 'ini apa?' 'itu apa?' 'yang ini buat apa?' 'kenapa bisa begitu?'
mengajarinya tentang lampu lalu lintas saat akan menyebrang di lampu merah, kemudian memberitahunya menggunakan angkutan umum yang mana untuk sampai ke rumah.
kemudian mengajaknya makan malam dengan bertanya "kamu mau makan apa?" lalu kemudian memilih tempat makan yang menjual makanan favoritnya. melihatnya makan dengan lahap karena terlalu lelah bermain, membayangkan akan menjadi apa saat ia besar nanti. mendengarkanya bercerita mengenai teman-temannya di sekolah. kadang harus terpaksa tersenyum untuk menghargainya karena cerita yang diceritakannya tidak lucu tapi menurutnya lucu.
akan menjadi ibu yang seperti apa ya nanti ? hhhmmm..
menggenggam jemarinya supaya tetap berada tetap dalam perlindungan saya ketika sedang berjalan di keramaian, memberitahunya banyak hal yang sepanjang perjalanan selalu bertanya 'ini apa?' 'itu apa?' 'yang ini buat apa?' 'kenapa bisa begitu?'
mengajarinya tentang lampu lalu lintas saat akan menyebrang di lampu merah, kemudian memberitahunya menggunakan angkutan umum yang mana untuk sampai ke rumah.
kemudian mengajaknya makan malam dengan bertanya "kamu mau makan apa?" lalu kemudian memilih tempat makan yang menjual makanan favoritnya. melihatnya makan dengan lahap karena terlalu lelah bermain, membayangkan akan menjadi apa saat ia besar nanti. mendengarkanya bercerita mengenai teman-temannya di sekolah. kadang harus terpaksa tersenyum untuk menghargainya karena cerita yang diceritakannya tidak lucu tapi menurutnya lucu.
akan menjadi ibu yang seperti apa ya nanti ? hhhmmm..
what do I really want?
Bertemu dengan teman SMA setelah 6 tahun adalah saat dimana
kita akan bercerita dan ditanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti, “lu sekarang
kerja dimana?” , “lu udah menikah? Atau udah punya anak?”
Begitu juga kemarin, saya menemukan hal yang sama. Dengan alasan
ingin memberikan sesuatu, saya bertemu dengan teman SMA yang baru saja pulang
dari Australia.
Berpelukan sambil berteriak adalah hal pertama yang kami
lakukan. Lalu memperhatikan penampilannya dari kepala sampai kaki.
“Kok lu jadi kurus? Kok bisa? Terakhir ketemu kan lu masih
gendut?” kata saya selalu ceplas ceplos dengan teman saya yang satu ini.
Teman saya tertawa dan malu-malu. Lalu kemudian dia kaget. “Lu
udah punya anak?” katanya ketika melihat saya membawa keponakan saya ikut dalam
pertemuan ini.
Saya tertawa dan berkata menceritakan ketidak sengajaan saya
membawa keponakan saya.
“Gue pikir, lama nggak ketemu lu udah punya anak aja.” Katanya.
Kami langsung masuk ke dalam pembicaraan banyak hal mulai
dari kenangan SMA, sang kekasih dan kehidupan yang dijalani setelah lulus SMA. Rasanya
nggak pernah keabisan bahan obrolan.
Sampai tiba-tiba saya bertanya “lu mau ngapain abis pulang dari Aussie?”
“Gue pengen nikah aja. Nunggu dilamar.” Katanya
Saya terbelalak. “NIKAH? Waaahh!”
Dia mengangguk dengan pastinya.
Ternyata keinginan teman saya ini dari SMA ini belum
berubah. Dia masih tetap dengan rencanya yang ingin menjadi ibu rumah tangga
saja dan memiliki usaha di rumah.
Lalu saya, saya ingin apa sebenarnya untuk diri saya
sendiri? Hhmm.
Sunday, March 24, 2013
Love In Prague
Love in Prague adalah judul novel pertama yang saya baca. Novel
yang saya baca ketika saya masih kelas satu SMA tahun 2004, saya dipinjami teman (karena dia berat bawa banyak buku saat itu) untuk membaca
novelnya.
Mengisahkan tentang seorang perempuan yang doyan banget ikutan kuis dan beruntungnya
dia selalu memenangkan kuis-kuis yang dia ikuti. Dan salah salah satu
kemenangannya adalah dapet liburan gratis ke Praha.
Diceritakan di novel itu betapa menarik dan romantisnya
Charles Bridge karena menjadi tempat jadiannya pemeran utama dalam novel itu. Kastil-kastil,
acara-acara kebudayaan dan lain-lainnya yang bener-bener membuat ingin kesana.
Dan Minggu siang ini, saya membaca kolom travelling di harian Radar
Bogor, ternyata isinya membahas tentang salah
satu kota di Republik Ceko itu, Praha. Dan (lagi), si travelernya ternyata
terinspirasi dari novel yang sama yang pernah saya baca. Dia pergi kesana karena membaca novel Love In Prague. Huaaaaa, rasanya dia
mewujudkan impiannya terlebih dahulu.
And you know what? kalimat ‘itu’ sudah saya katakan dalam
hati, hehe. ‘One day, saya akan kesana.’
![]() |
| Cover Novel Love In Prague karyanya Riheam |
Semoga akan ada cerita
trip saya di Praha suatu hari nanti di Blog ini. AAMIIIIIIIIIINNNNNNN !!!
Subscribe to:
Posts (Atom)
