Wednesday, April 27, 2016

#2 Love will Find a Way (Insya Allah)

Depok, Early of December 2015


"Kamu besok, bisa ke Depok kan?"

Tidak seperti  biasanya, pertanyaan kali ini agak memaksa.

"Aku kan udah bilang, aku sudah ada janji sama temenku, mau nganter dia belanja ke Tanah Abang." Jawabku kesal.

"Ya batalin aja,"

"Ya ngga bisa gitu donk, kamu ini ngga bisa banget ngertiin aku. Aku masih butuh main juga teman-temanku kan?"

"Ya maaf, kali ini aja batalin."

"Emang ada apa sih?"

"Ya pokoknya aku mau kamu ke Depok besok."

"Alasannya apa dulu? aku ngga bisa ngebatalin janjiku yang udah jauh-jauh hari gitu aja."

Dia mulai kesal dengan ke-tidak-bisa-diatur-anku ini.

"Aku mau kamu ketemu sama ibu."

Deg !




***
Bertemu dengannya dengan cara yang seperti ini, membuatku memutuskan memiliki batas waktuku sendiri yang kukatakan kepadanya.

"Aku punya time limitku sendiri, kalau dalam waktu 3 bulan, kita memang tidak ada kemajuan, kita akhiri saja ya, terlalu lama, hanya buang-buang waktu saja bukan, dengan perasaan-perasaan 'aneh' ini bersamamu."

"Maksud kamu apa? Kenapa kamu begitu? Aku kan sudah bilang, aku serius sama kamu dan aku mau akhir hubungan kita ini menikah. Kenapa kamu memutuskan hal-hal seperti ini sendirian?"

"Ini kan aku sedang bilang. Kamu marah?"

"Ya bukan begitu.  Aku ngga suka aja kamu punya rencana sendiri tentang kita. Dan aku ngga tahu. Apalagi ini kamu punya rencana pergi dari aku."

Dan aku hanya terdiam. Terlalu lama dalam perasaan bahagia tanpa ujung yang pasti itu tetap mengkhawatirkan untukku. Dan aku sudah tidak ingin berada dalam hubungan seperti ini terlalu lama.

It is better to stay alone, than berdua tapi hati lagi taruhannya saat hubungan itu berakhir.

***

Sampailah kami di sebuah rumah di kawasan Depok.

"Tuh, tuh babang bawa siapa tuh?" suara-suara dari dalam rumah ini sudah terdengar ketika ia memakirkan motornya di halaman rumah itu.

"Aku boleh pulang lagi ngga, Bang?" tanyaku gugup. It is really hard to deal with new people, right? apalagi orang-orang ini adalah calon orang-orang terdekat nantinya.

Ia hanya tersenyum, "Udah masuk aja."

"Ngga, kamu duluan lah, masa aku?"

Akhirnya ia mendahuluiku masuk ke dalam rumah itu. Bapak, Ibu, adik-adik, Bu De, lots of keponakan ada di dalamnya. Dan aku menyalami mereka semua dan bertegur sapa.

OK.  Now I am in the middle of his family.. his big family, yang mungkin suatu saat akan menjadi bagian keluargaku juga atau tidak.. (tapi karena postingannya sekarang, Insya Alloh... Aamin)


Tuesday, April 26, 2016

#1 Love will Find a Way (Insya Allah)

Jakarta, Saturday, early of September 2015.  


"Fina ya?" Sapa seseorang yang sudah kutunggu kedatangannya sejak 30 menit yang lalu.

Aku menatap si pemilik suara tersebut dan mengangguk.

"S." katanya melanjutkan memastikan bahwa benar ialah laki-laki yang sedang kutunggu.

Nervous? Yes! tapi entah kemudian kami membicarakan banyak hal. It was fun.

"OK Fina," begitu dia memanggilku "Kita ketemu lagi 3 minggu lagi ya, setelah aku prajab." tapi kemudian dia bertanya lagi "Eh, tapi kamu masih mau ketemu aku lagi?" tanyanya.

Aku tersenyum dan menjawab "Sampai jumpa 3 minggu lagi ya."

Iapun mengangguk sambil tersenyum.


***

Sekitar seminggu sebelumnya...

"Mba, kado ulang tahun gue yang sesungguhnya nanti ya.." R, teman sebelah kantorku berkata.

"Maksudnya?"

"Udah deh, pokonya tunggu aja, nanti ada yang sms lo, pokonya mesti di bales." katanya.

"Siapa yang akan sms?" tanyaku bingung.

"Pokoknya, gue sama A dan Mas I lagi bikin projek buat lo berdua deh mba"


Beberapa hari kemudian, sms yang dimaksud R datang. S. Nama laki-laki itu yang kemudian mengirimkan pesan singkat yang kemudian terus berlanjut sampai untuk pertama kalinya kami bertemu.