Friday, November 11, 2016

#5 Love is Trully Find Its Way (Alhamdulillah)

May, 21st  2016



"Ay, aku udah di Pajajaran" abang mengirimkan teks WA ketika aku sedang berada di ruang rias pengantin di Gedung Bima, Sukasari.

Rasa gugup apakah semua akan berjalan dengan baik semakin berkecamuk dalam diri ini. Terlebih lagi dengan isi WA yang mengatakan dia sudah dekat. Jam menunjukkan angka 8 kurang, dimana beberapa menit lagi akan diucapkan Ijab Qobul untuk mensahkan hubungan kami.

"Oh My God ! Ga usah buru-buru lah bang, aku gatau diluar kaya apa, persiapan mesjid dll udah selesai atau belum, aku gatau." Jawabku pasrah.

"Aku sudah di Sukasari" Balasan yang semakin menyebalkan sebenarnya karena jarak sudah tinggal hanya beberapa meter lagi. Ya Alloh, please lancarkan... doaku di setiap diam.


"Biasa pengantin cewek mah begini," Nadya teman SMP dan SMA ku yang sekarang menjadi penata rias di acara pernikahanku mengomentari kegugupanku.

"Aduh, pusing ya menikah, Nad."

"Tapi enak kok, hahahaa" Katanya mengejekku.

"Pida... bejakeun ka abah, rombongan geus di Sukasari cenah.." aku berteriak kepada adikku yang sebagai penyampai info kepada keluargaku dalam logat Sunda.

"Iya." Jawab adikku santai.. mungkin gugup yang bisa ditutupi.


***

"Pin, katanya sekarang jalan ke mesjidnya, udah siap-siap mau Ijab tuh."

Haduuh.. if you were me.. itu jantung kalau ga di kontrol mah udah mau copot aja kalii... please deh.. never felt that feeling before.

"OK" Aku ditemani adikku berjalan menuju mesjid yang jaraknya tidak jauh dari ruang riasku. Ketika berjalan terdengarlah suara abang via speaker

"Saya terima nikah dan kawinnya Fina ........."

Oh my god, oh my god, kalimat itu, suara itu.. kalau dibayangin lagi.. rasanya masih kerasa kok deg-degannya.


"SAH!"

I am a wife ! I am a wife of someone, Syurga ku sudah beralih dari orangtuaku kepada suamiku, aku memiliki kewajiban baru, hak baru, pendamping ! S.U.A.M.I.


Sesampainya di mesjid, aku diminta untuk berada di sebelah Abang-yang sekarang sudah resmi menjadi suamiku- untuk menandatangani berbagai dokumen dan berbagai acara penyerahan dan sungkeman lainnya.

For the first time, for the first time in my life ! He kissed my forehead in front of people ! udah sah sih, tapi tetep aja maluuu.. ciyeee.. kata para hadirin yang menghadiri acara akad nikah kami.


Moment paling melow sudah pasti adalah peristiwa sungkeman.. Ngga bisa ngga nangis ya ternyataa.. Mamah Abah.. from that time.. semua sudah beralih ke Abang sekarang.. hmm.. (ini menggenang di mata ini, hehe)

Well, after that.. salam-salaman dan acara resepsi kemudian digelar..

Alhamdulillah.. sahabat dan keluarga serta teman-teman yang kami undang banyak hadiir dan ikut mendoakan kebahagiaan kami, nothing more important than doa bukan..

Semoga kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah warrahmah.. dan diberikan keturunan yang sholeh dan sholehah dan membanggakan. Aamin !

#4 Love will Find a Way (Insya Alloh)

April, 9th..

Hari dimana keluarganya dan keluargaku bertemu..


"Bersama ini, saya ayah dari anak saya, .... pada hari ini..  ini gimana kok mati.." Bapak yang sedang membaca teks pidato dari handphone adiknya abang tiba-tiba kebingungan karena teks yang dibacanya tiba-tiba menghilang. 

Sontak saja dari beberapa yang hadir ada yang tertawa dan  ada yang tegang. Karena sudah diotak-atik sepertinya tidak ketemu, dengan gagahnya abang berdiri dari duduknya dan dengan lantang berbicara

"Jadi Bah, saya dan keluarga saya datang kesini, bermaksud untuk melamar anak Abah, Fina. Kalau diizinkan, saya minta Ibu saya untuk memakaikan cincin sebagai tanda ikatan." kata Abang kepada Abah.

Abah yang juga sedang nervous sambil duduk di kursinya, kemudian berkata iya.

Aku berdiri setelah beberapa dari saudara-saudaraku memanggil dan Ibu kemudian menyematkan cincin di jari manisku dengan membaca "Bismillahirrohmaanirroohiim.."

Alhamdulillah.. lancar sudah salah satu peristiwa penting lainnya dalam hidup kami berdua,

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi makan-makan , foto-foto dan ngobrol-ngobrol kedua keluarga dan handai taulan. 








Wednesday, May 4, 2016

#3 Love will Find a Way (Insya Allah)

Bogor, March 5th 2016

Brian McKnight~ Marry Your Daughter

Sir, I'm bit nervous
Bout being here today
Still not real sure what I'm going to say
So bare with me please
If I take up too much of your time

See in the box is a ring for your oldest
She's my everything and all that I know is
It would be such relief if 
I knew that we were on the same side
Very soon I'm hoping that I...

Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl 
that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'till the day that I die, yeah

I'm gonna marry your princess
And make her my queen
She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
Can't wait to smile
When she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter
She's been hear every step
Since the day that we met 
(I'm scared to death to think of what would happen if she ever left)

So don't you ever worry about me ever treating her bad
I've got most of my vows done so far 
(So bring on the better or worse)
And till death do us part

There's no doubt in my mind
It's time
I'm ready to start
I swear to you with all of my heart...
I'm gonna marry your daughter
And make her my wife

I want her to be the only girl that I love for the rest of my life

And give her the best of me 'till the day that I die, yeah
I'm gonna marry your princess
And make her my queen
She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
I can't wait to smile
As she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter

***

"Sekarang apa ntar?" tanyanya kepadaku.

"Apaan?"

"Masih pake nanya lagi? Ya bilang sama abah sama mamahlah"

"Bilang apa?" aku masih tetap saja menggodanya yang sedang gugup itu. 

Dia menatapku kesal.

"OK OK.. aku mesti ke mana dulu nih?"

"Ya pergi dulu aja kek, kemana gitu."

"OK, aku ke depan doank ya.. Good luck!" kataku yang mulai beranjak.

"Kamu mau kemana? kamu tega ngebiarin aku sendirian?"

"Lha, tadi barusan yang  bilang pergi siapa?"

"Beneran mau pergi?"

"Haah.. yaudah iya.. aku disini." jawabku tersenyum melihat kegugupannya mulai menjadi. "Kamu nervous?"

"Ngga." jawabnya tetap dengan ke-sok tenang-annya.

"Fine. Mah.. Bah.. si abang mau ngobrol." panggilku kepada mamah dan abag.

I will always remember the way he asked me to my parent, semua gerakan-gerakan tangan itu saat ia nervous berbicara dengan kedua orangtuaku.. semuanya.

The day when you bravely asked me to them..


I love you, Bang...









Wednesday, April 27, 2016

#2 Love will Find a Way (Insya Allah)

Depok, Early of December 2015


"Kamu besok, bisa ke Depok kan?"

Tidak seperti  biasanya, pertanyaan kali ini agak memaksa.

"Aku kan udah bilang, aku sudah ada janji sama temenku, mau nganter dia belanja ke Tanah Abang." Jawabku kesal.

"Ya batalin aja,"

"Ya ngga bisa gitu donk, kamu ini ngga bisa banget ngertiin aku. Aku masih butuh main juga teman-temanku kan?"

"Ya maaf, kali ini aja batalin."

"Emang ada apa sih?"

"Ya pokoknya aku mau kamu ke Depok besok."

"Alasannya apa dulu? aku ngga bisa ngebatalin janjiku yang udah jauh-jauh hari gitu aja."

Dia mulai kesal dengan ke-tidak-bisa-diatur-anku ini.

"Aku mau kamu ketemu sama ibu."

Deg !




***
Bertemu dengannya dengan cara yang seperti ini, membuatku memutuskan memiliki batas waktuku sendiri yang kukatakan kepadanya.

"Aku punya time limitku sendiri, kalau dalam waktu 3 bulan, kita memang tidak ada kemajuan, kita akhiri saja ya, terlalu lama, hanya buang-buang waktu saja bukan, dengan perasaan-perasaan 'aneh' ini bersamamu."

"Maksud kamu apa? Kenapa kamu begitu? Aku kan sudah bilang, aku serius sama kamu dan aku mau akhir hubungan kita ini menikah. Kenapa kamu memutuskan hal-hal seperti ini sendirian?"

"Ini kan aku sedang bilang. Kamu marah?"

"Ya bukan begitu.  Aku ngga suka aja kamu punya rencana sendiri tentang kita. Dan aku ngga tahu. Apalagi ini kamu punya rencana pergi dari aku."

Dan aku hanya terdiam. Terlalu lama dalam perasaan bahagia tanpa ujung yang pasti itu tetap mengkhawatirkan untukku. Dan aku sudah tidak ingin berada dalam hubungan seperti ini terlalu lama.

It is better to stay alone, than berdua tapi hati lagi taruhannya saat hubungan itu berakhir.

***

Sampailah kami di sebuah rumah di kawasan Depok.

"Tuh, tuh babang bawa siapa tuh?" suara-suara dari dalam rumah ini sudah terdengar ketika ia memakirkan motornya di halaman rumah itu.

"Aku boleh pulang lagi ngga, Bang?" tanyaku gugup. It is really hard to deal with new people, right? apalagi orang-orang ini adalah calon orang-orang terdekat nantinya.

Ia hanya tersenyum, "Udah masuk aja."

"Ngga, kamu duluan lah, masa aku?"

Akhirnya ia mendahuluiku masuk ke dalam rumah itu. Bapak, Ibu, adik-adik, Bu De, lots of keponakan ada di dalamnya. Dan aku menyalami mereka semua dan bertegur sapa.

OK.  Now I am in the middle of his family.. his big family, yang mungkin suatu saat akan menjadi bagian keluargaku juga atau tidak.. (tapi karena postingannya sekarang, Insya Alloh... Aamin)


Tuesday, April 26, 2016

#1 Love will Find a Way (Insya Allah)

Jakarta, Saturday, early of September 2015.  


"Fina ya?" Sapa seseorang yang sudah kutunggu kedatangannya sejak 30 menit yang lalu.

Aku menatap si pemilik suara tersebut dan mengangguk.

"S." katanya melanjutkan memastikan bahwa benar ialah laki-laki yang sedang kutunggu.

Nervous? Yes! tapi entah kemudian kami membicarakan banyak hal. It was fun.

"OK Fina," begitu dia memanggilku "Kita ketemu lagi 3 minggu lagi ya, setelah aku prajab." tapi kemudian dia bertanya lagi "Eh, tapi kamu masih mau ketemu aku lagi?" tanyanya.

Aku tersenyum dan menjawab "Sampai jumpa 3 minggu lagi ya."

Iapun mengangguk sambil tersenyum.


***

Sekitar seminggu sebelumnya...

"Mba, kado ulang tahun gue yang sesungguhnya nanti ya.." R, teman sebelah kantorku berkata.

"Maksudnya?"

"Udah deh, pokonya tunggu aja, nanti ada yang sms lo, pokonya mesti di bales." katanya.

"Siapa yang akan sms?" tanyaku bingung.

"Pokoknya, gue sama A dan Mas I lagi bikin projek buat lo berdua deh mba"


Beberapa hari kemudian, sms yang dimaksud R datang. S. Nama laki-laki itu yang kemudian mengirimkan pesan singkat yang kemudian terus berlanjut sampai untuk pertama kalinya kami bertemu.