Berawal
dari perjalanan di Terminal Serang menuju Bogor. Saya dan sahabat saya, Dian
baru saja melakukan semacam petualangan mencari tempat untuk berlibur di Pantai
Carita. Karena perjalanan yang panjang, bermain air pantai dari sore hari di
hari sebelumnya lalu lanjut lagi di pagi harinya. Alhasil hari itu benar-benar
sangat melelahkan.
Sampai
di bus tujuan Bogor, beruntungnya kami mendapatkan bus AC dan dapat tempat
duduk di kursi deretan paling belakang. Tak apalah, yang penting kami tidak
harus berdiri dan merasakan pegal kaki.
Selang
tiga puluh menit setelah bus berjalan, kami berdua sudah tidak banyak
mengobrol. Kami sudah fokus dengan keinginan untuk mengistirahatkan diri kami
masing-masing. Sesekali saya sudah memejamkan mata untuk menghilangkan sedikit
rasa kantuk. Dalam perjalanan baru, saya lebih senang memperhatikan rute jalan
menuju tempat tujuan. Berharap suatu saat jika kembali ke tempat yang sama,
saya sudah hafal rutenya J
Di
pertengahan jalan, saya memperhatikan Dian sudah tertidur agak pulas. Kepalanya
sudah mulai berlenggak lenggok ke kanan dan kiri mencari keseimbangannya. Saya
hanya tersenyum kecil melihatnya. Saya melanjutkan keasyikan sendiri lagi
dengan melihat pemandangan kanan kiri jalan tol.
Setelah
terlalu asyik sendiri melihat pemandangan kanan kiri jalan, saya memperhatikan
sahabat saya kembali, wow ! saya kaget. Posisinya tiba-tiba saja sudah berubah.
Kepalanya sudah menyender kebelakang dengan posisi yang pastinya membuat
lehernya pegal saat bangun nanti dan otomatis membuat mulutnya agak menganga.
Melihatnya
begitu kelelahan saya tidak tega, saya yang memaksanya untuk bepergian dengan
angkutan umum walaupun sebelumnya sudah ditawarkan untuk menyewa mobil, tapi
saya tolak. Kemudian satu-satunya cara
adalah dengan menarik kepalanya agar bersender ke bahu saya. Dan saya
melakukannya.
Dian
memposisikan tidurnya agak lebih nyaman di bahu saya. Awalnya saya pikir begitu
sudah cukup membuatnya nyaman, ternyata saat mengerem dan menggagas, membuat
kepalanya jadi terlempar-lempar. Akhirnya tangan kiri saya menahan kepalanya.
Dan Dianpun tidur dengan pulasnya sampai ke Jakarta saat dia bangun.
Menahan
kepalanya selama sekitar satu jam itu
membuat tangan saya terasa lumayan pegal juga. Beberapa menit setelah Dian
tersadar dari tidurnya, dia tersenyum manis sekali kepada saya. Saya jadi
bingung sendiri ada dengannya.
“
Fina, gue makin cinta deh ma lo” katanya tiba-tiba.
“Ada
apa ya ?”
“Lu
baik banget. Ngasih bahu sama
tangannya buat gue supaya tidur nyaman.”
Jawabnya dengan senyumnya yang paling manis yang pernah ia tunjukkan.
Saya
tersenyum. “ Ada maksudnya kok, tapi
yasudahlah.”
“Maksud?”
tanyany penuh curiga.
“Tadi
tuh lo tidur, malu-maluin. Masa cantik-cantik
tidurnya nyelangap begitu, makanya gue tarik ke bahu gue. Tadinya nggak mau dipegang, tapi kepala lo goyang-goyang, makanya akhirnya selama perjalanan gue pegang kepala lo.”
Tak ada
suara setelah penjelasan berakhir.
“Kenapa?
Kok diem?”
Tetap
tak ada respon.
Saya
menyenggol sikunya.
“FINAAAA..
lo jahat, ternyata bukan karena care sama gue. Gue kaya udah
terbang tinggi banget, tapi lo
jatohin gue gitu aja. Jahat !”
katanya dengan nada marah-marah.
Saya
hanya mendengarkan setiap amarahnya dengan tersenyum.
“Itu
juga kan tandanya care, apa bedanya ?”
“NGGA
! BEDA !” Dian semakin manyun.
![]() |
Melihatnya
wajah dan caranya marah-marah membuat saya terpingkal – pingkal. Padahal niat
hati melakukan itu memang karena saya benar-benar peduli terhadapnya. J


