Wednesday, November 7, 2012

Jaim ; Jaga Imej


Berawal dari perjalanan di Terminal Serang menuju Bogor. Saya dan sahabat saya, Dian baru saja melakukan semacam petualangan mencari tempat untuk berlibur di Pantai Carita. Karena perjalanan yang panjang, bermain air pantai dari sore hari di hari sebelumnya lalu lanjut lagi di pagi harinya. Alhasil hari itu benar-benar sangat  melelahkan.

Sampai di bus tujuan Bogor, beruntungnya kami mendapatkan bus AC dan dapat tempat duduk di kursi deretan paling belakang. Tak apalah, yang penting kami tidak harus berdiri dan merasakan pegal kaki.
Selang tiga puluh menit setelah bus berjalan, kami berdua sudah tidak banyak mengobrol. Kami sudah fokus dengan keinginan untuk mengistirahatkan diri kami masing-masing. Sesekali saya sudah memejamkan mata untuk menghilangkan sedikit rasa kantuk. Dalam perjalanan baru, saya lebih senang memperhatikan rute jalan menuju tempat tujuan. Berharap suatu saat jika kembali ke tempat yang sama, saya sudah  hafal rutenya J

Di pertengahan jalan, saya memperhatikan Dian sudah tertidur agak pulas. Kepalanya sudah mulai berlenggak lenggok ke kanan dan kiri mencari keseimbangannya. Saya hanya tersenyum kecil melihatnya. Saya melanjutkan keasyikan sendiri lagi dengan melihat pemandangan kanan kiri jalan tol.
Setelah terlalu asyik sendiri melihat pemandangan kanan kiri jalan, saya memperhatikan sahabat saya kembali, wow ! saya kaget. Posisinya tiba-tiba saja sudah berubah. Kepalanya sudah menyender kebelakang dengan posisi yang pastinya membuat lehernya pegal saat bangun nanti dan otomatis membuat mulutnya agak menganga.

Melihatnya begitu kelelahan saya tidak tega, saya yang memaksanya untuk bepergian dengan angkutan umum walaupun sebelumnya sudah ditawarkan untuk menyewa mobil, tapi saya tolak. Kemudian  satu-satunya cara adalah dengan menarik kepalanya agar bersender ke bahu saya. Dan saya melakukannya.
Dian memposisikan tidurnya agak lebih nyaman di bahu saya. Awalnya saya pikir begitu sudah cukup membuatnya nyaman, ternyata saat mengerem dan menggagas, membuat kepalanya jadi terlempar-lempar. Akhirnya tangan kiri saya menahan kepalanya. Dan Dianpun tidur dengan pulasnya sampai ke Jakarta saat dia bangun.

Menahan kepalanya selama  sekitar satu jam itu membuat tangan saya terasa lumayan pegal juga. Beberapa menit setelah Dian tersadar dari tidurnya, dia tersenyum manis sekali kepada saya. Saya jadi bingung sendiri ada dengannya.

“ Fina, gue makin cinta deh ma lo” katanya tiba-tiba.

“Ada apa ya ?”

“Lu baik banget. Ngasih bahu sama tangannya buat gue supaya tidur nyaman.” Jawabnya dengan senyumnya yang paling manis yang pernah ia tunjukkan.

Saya tersenyum. “ Ada  maksudnya kok, tapi yasudahlah.”

“Maksud?”  tanyany penuh curiga.

“Tadi tuh lo tidur, malu-maluin. Masa cantik-cantik tidurnya nyelangap begitu, makanya gue tarik ke bahu gue. Tadinya nggak mau dipegang, tapi kepala lo goyang-goyang, makanya akhirnya selama perjalanan gue pegang kepala lo.”

Tak ada suara setelah penjelasan berakhir.

“Kenapa? Kok  diem?”

Tetap tak ada respon.

Saya menyenggol sikunya.

“FINAAAA.. lo jahat, ternyata bukan karena care sama gue. Gue kaya udah terbang tinggi banget, tapi lo jatohin gue gitu aja. Jahat !” katanya dengan nada marah-marah.

Saya hanya mendengarkan setiap amarahnya dengan tersenyum.

“Itu juga kan tandanya care, apa bedanya ?”

“NGGA ! BEDA !” Dian semakin manyun.


Melihatnya wajah dan caranya marah-marah membuat saya terpingkal – pingkal. Padahal niat hati melakukan itu memang karena saya benar-benar peduli terhadapnya. J

No comments:

Post a Comment