Pertama kali menginjak Sumatera itu adalah Kota Jambi. Walau
dalam misi tugas, saya tetap mencari waktu senggang untuk setidaknya
meng-explore sekitaran Kota Jambi.
Perjalanan yang selalu melewati beberapa simpang akhirnya
menimbulkan tanya di benak saya,
“Perasaan dari tadi banyak persimpangan ya , Pak ?” tanya
saya kepada sang supir yang membawa kami menuju Hotel. Sang supir hanya mengangguk, lalu menjelaskan lagi beberapa
tempat yang kami lewati.
Di hari pertama kami sempat mengunjungi daerah-daerah yang
sering dikunjungi. Diantaranya Ancol Jambi, Jembatan Aur Duri 2 (dua), dan
pujasera makanan-makanan khas Jambi. Ternyata di Jambi banyak hal-hal yang mengutip dari daerah lain di Indonesia, misalnya ada Monas, lalu juga ada Jalan Malioboro, Ancol seperti yang sudah saya sebutkan tadi, walaupun dalam bentuk yang berbeda dengan aslinya.
Untuk makan malam, kami mencoba pindang
ikan patin dan tempoyak udang. Katanya tempoyak itu makanan khas Jambi,
tempoyak itu merupakan kuah sayuran, hanya ada rasa durian di dalamnya. Jadi
rasanya
campur-campur gurih dan rasa durian.
Silahkan dicoba jika ke Jambi.
Di hari kedua, saya diajak berkeliling oleh salah satu teman
di Jambi yang sangat baik sekali. Kami berkeliling untuk menemani saya mencari
oleh-oleh yang bisa saya bawa pulang, setelah seharian kami berkeliling di
salah satu desa di Kabupaten Muaro Jambi, yaitu Sungai Gelam. beberapa kali berputar, lagi-lagi saya bertanya,
“Kita sudah melewati simpangan berapa kali ya ?”
Teman dan supir yang membawa saya berkeliling tertawa renyah
mendengar pertanyaan saya itu.
“Jambi kan memang dikenal sebagai Kota Simpang, Fina. Jadi
kita mesti akan melewati berbagai simpangan kemanapun tujuannya. Tapi, kalau
kamu tinggal di Jambi lamaan dikit aja, kamu akan tahu kalau Jambi itu
sebenarnya jalannya kesitu-situ juga.”
Saya hanya mengangguk-angguk mendengar kalimat teman saya
yang baik itu. Setelah berhasil mendapatkan empek-empek SELAMAT yang disukai
adik saya, kami bergegas menuju toko batik khas Jambi. Saya mulai berpikir
untuk mengkoleksi batik-batik Indonesia di berbagai tempat, jadi pengkoleksian
dimulai dari batik Jambi ini. Walaupun di rumah sudah ada beberapa batik daerah
yang dibawakan teman-teman sebagai hadiah dan oleh-oleh. Hehehe.
Lanjut perjalanan di malam hari itu adalah saya di ajak
makan bakso, namanya Bakso Sukat. Baksonya enak, hanya kuahnya seperti
soto,keruh. Tidak bening seperti layaknya bakso yang lain. Ditemani dengan es
tebu, yang baru pertama kali saya coba di Jambi, walaupun sudah banyak yang
menjual di daerah-daerah lain. Walaupun menurut dokter gigi , makan makanan
panas dan dingin tidak boleh dilakukan bersamaan, rasanya tetap enaak saja
malam itu. Hehehe.
Karena sudah hampir tengah malam, toko-toko di Jambi
kebanyakan sudah tutup, jadi saya hanya bisa mengunjungi sedikit tempat saja. Padahal
dalam pembicaraan saya dan teman saya juga dengan supir yang mengantar kami,
ada beberapa di daerah Jambi yang menjual barang-barang import murah, tempat
yang sebenarnya ingin saya kunjungi, hanya letaknya agak jauh. Jarak tempuh
menuju tempat tersebut itu sekitar dua jam. Nama daerahnya Tungkal. Mungkin lain
kali ketika saya mengunjungi Jambi lagi, saya akan mengunjunginya.
Oh iya, katanya ada mitos. Kalau kita meminum air mineral
yang bersumber dari mata air Batang hari, dipastikan tak lama lagi, mereka yang
meminumnya akan kembali ke Kota Jambi. Semoga saya juga segera kembali kesana. J