Suatu sore setelah selesai bekerja, mencoba menggunakan bus untuk pulang ke Bogor. Ternyata perjalanannya terasa lebih berat, karena macetnya yang luar biasa di jam-jam pulang kerja di Jakarta. Tetapi selalu ada plus dan minus bukan dalam segala hal ? Dengan menggunakan bus ternyata perjalanan menuju rumah lebih mudah dan terbilang lebih cepat beberapa menit daripada menggunakan KRL (Kereta Rel Listrik).
Tidak terlalu banyak yang dikerjakan di kantor rasanya lebih membuat badan lebih capek daripada saat sedang banyaknya tugas di kantor. Sepulang dari kantor rencananya akan lanjut mengerjakan soal untuk UTS di sekolah dan menyiapkan modul untuk mengajar. Tapi rencana hanya tinggal rencana. Sampai rumah rencana itu hangus karena tertidur . :p
Sampai di rumah, mama menyambut saya di depan pintu dengan senyum yang agak berbeda. Tiba-tiba rasa lelah agak berkurang namun tak lama setelahnya jadi berat lagi ketika mama menarik tangan saya membuat saya mendekat ke wajahnya.
"Jangan kaget ya. Motor abah hilang." Bisiknya di telinga saya.
Hmmm. Sebenernya ingin langsung menangis, membayangkan sedih yang pasti dirasakan oleh abah tentang hilangnya motor itu. Bagaimanapun motor itu merupakan motor yang sangat disayanginya, terkadang melebihi sayangnya terhadap saya anaknya. Hehe.
Menatap wajah abah untuk mencium tangannya (ritual pulang kerja) terlihat ada kekecewaan yang tersembunyi. Setelah mencium tangannya, kembali tangan saya ditarik perlahan untuk didekatkan ke wajahnya.
" Jangan kaget ya." tuturnya tidak jauh beda dengan kalimat mamah. "Motor ilang waktu ngaji di mesjid."
Saya hanya mengangguk dan diam mendengarkan kronologis yang kemudian diceritakan abah.
"Mungkin memang sampai segitu rejekinya punya motor. Ikhlasin aja ya." Tutur abah selanjutnya. Walaupun sebenarnya mungkin pasti ada rasa kecewa didalam hatinya. Lebih yakin lagi abah akan belajar untuk benar-benar mengikhlaskan barang kesayangannya itu.
Rasanya ingin deh bilang saat itu "Besok langsung ke dealer aja. Pilih motor yang abah suka langsung beli." tapi belum mampu untuk mengatakan itu saat ini. :)
"Ini ujian dari Allah, kalau motornya udah ngga ada begini, masih mau tetap ngaji ngga ? Naik angkot atau naik ojek gitu." mama kemudia mengeluarkan kalimat yang saya tidak duga sebelumnya.
Kalimat yang langsung disambut senyuman oleh abah. "Iyalah harus tetep jalan terus. Ada ataupun ngga ada motor."
Mendengar percakapan itu sangat membuat hati tenang, karena ternyata mama sangat bisa dengan caranya membuat beban di pundak abah lebih ringan sepertinya. Semoga motor yang hilang diganti Allah dengan yang lebih baik. Semoga abah dinaikkan derajatnya dengan mengikhlaskan kehilangannya tersebut. Dan semoga mama akan selalu menjadi sosok yang luar biasa untuk menemani abah. Aamin.
Segala hal itu terjadi pasti dengan alasan dan hikmah kelak. Mudah-mudahan.
No comments:
Post a Comment