In front of Terminal 3 Soeta
Bertepatan
dengan Hari Buruh sedunia, saya melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur, Malaysia
bersama dengan teman saya, Dian dan ibunya sebagai hadiah ulang tahun untuk ibunya.
Karena
sudah banyak gossip akan ada demo besar-besaran buruh di Jakarta, saya
berangkat dari Bogor menuju Bandara Soeta sudah dari jam 7 pagi. Lebih baik nunggu
daripada ditinggal pesawat kan?
Sampe
di Bandara jam setengah 10 pagi. Ketika menunggu Dian dan ibunya datang,
seorang ibu paruh baya menarik tangan saya dan berkata dengan bahasa agak
Padang-Padang gitu. Ketika saya tanya ‘ada apa?’ beliau malah menyodorkan
handphonenya dan berkata “telepon Buyuang.”
Akhirnya
dengan sok tahunya berpikir mungkin beliau minta diteleponin ke anaknya. Dan
saya membantunya. Dan sedikit mengobrol, ternyata beliau datang dari
Bali dan akan menuju rumah anaknya yang ada di daerah Petamburan.
Ketika
saya sedikit bergeser untuk melihat taksi yang datang, beliau menarik tangan
saya.mungkin beliau pikir saya akan meninggalkannya. Akhirnya saya mendekatkan
diri kembali dengannya agar tidak merasa saya tinggalkan.
Tidak
lama sebelum teman saya datang, ternyata anaknya datang beserta cucunya dan
disambut senang sekali oleh ibu tersebut. Melihat pemandangan itu barulah saya
berpamitan dan menuju teman saya untuk segera masuk ke Departure area.
Before Departure
Masuk
ke dalam sekitar jam 10, kami bertiga menuju tempat yang menjual makanan untuk
menikmati BRUNCH kami. Sayang sekali makanannya tidak begitu memanjakan lidah,
hanya membuat perut kenyang saja. Tepat selesai makan, gate menuju waiting room
sudah dibuka. Kami mengantri di bagian imigrasi untuk menuju waiting room area.
Sekitar
setengah jam menunggu, kami bertiga mengobrol ngalor ngidul untuk membunuh
waktu. Kebetulan keberangkatan kali ini agak terlambat sekitar 15 menit. Untung
nggak sampe 2 jam, kalau iya Airasia musti bayar ganti rugi tuh ma kita,hehe.
Oiya,
sebelum masuk menuju pesawat kami sempat membeli kopi di coffee machine yang
ada di sekitar Zone 4. Sayang sekali uang Rp 5000 kami ditelan begitu saja
tanpa ada kopi yang keluar dari mesin tersebut. Mau complain bingung kemana,
karena tidak ada penjaganya. Jadii.. yasudahlah.
Beralih
ke mesin di sebelahnya dengan menggunakan uang 10.000 (harus bagus dan nggak
lecek baru mau ditelen sama mesinnya) barulah kami berhasil mendapatkan dua cup
kopi.
Depart and Arrive
Masuk
lewat Gate B menuju pesawat, kami rasa diburu-buru. Mungkin karena mereka
ngejar waktu keterlambatan. Saya dan mamah teman saya tukar tempat duduk agar
beliau bisa duduk bersebelahan dengan anaknya. Duduk di tempat yag terpisah,
saya kemudian berkenalan dengan orang Indonesia yang akan jalan-jalan di
Malaysia dan Singapur bersama dengan adiknya. Ia bernama Nurul.
Perjalanan
yang menghabiskan waktu sekitar 2 jam, saya habiskan setengahnya dengan
tertidur untuk mengembalikan sedikit tenaga dan waktu tidur yang kurang. Hehe.
Setengah
jam menuju landing, saya kembali mengobrol dengan teman sebelah saya dan
bersepakat untuk berjalan bersama menuju hotel kami masing-masing setelah di
Malaysia. Seperti tour guide yang diandalkan padahal belum pernah sama sekali
ke Kuala Lumpur.
Sampai
di LCCT (Low Cost Carier Terminal), Bandara yang masih bagian dari KLIA (Kuala
Lumpur International Airport) tapi letaknya sangat berjauhan. Kami mengantri di
imigrasi. Ketika pemeriksaan passport mamah teman saya, dan dua teman lainnya
harus menempelkan sidik jarinya, sedangkan saya dan teman saya Dian tidak
diminta (entah kenapa alasannya). Imigrasinya dibagi dua, foreigner passport
dan Malaysian passport.
Mendengar
cerita dari teman-teman, katanya ketika masuk imigrasi bagi yang berkerudung
itu agak ribet prosesnya dan selalu dianggap TKW sehingga teman saya
menyarankan agar berlaku agak sombong dan menggunakan kerudung agak elegan (padahal
saya bingung yang elegan itu yang bagaimana, hehe.) Tapi Alhamdulillah ketika
masuk imigrasi ke Malaysia, saya tidak
dipersulit.
LCCT-KL Sentral
Keluar
dari LCCT, kami mencari loket yang menjual tiket bus. Saya terlalu tinggi
membayangkan loket bus di Malaysia, jadi ketika melihat loket bus disana yang
terbuat dari kayu-kayu yang ukurannya juga ngga gede membuat saya curiga, ini
calo apa bukan ya? Karena katanya mendengar Kuala Lumpur itu sudah lebih maju
dari Jakarta. Akhirnya kami menggunakan Aerobus menuju KL Sentral (pusat
transportasi di Malaysia) dengan harga 8RM (Kurs 1RM Rp3200, tahun 2013).
Berdasarkan informasi yang sudah kami dapatkan dari berbagai blog, menuju hotel
kami masing-masing memang harus menuju KL Sentral lalu naik monorail. Sepanjang
jalan menuju KL Sentral pemandangan yang bisa dilihat dari kanan kiri jalan
tolnya adalah pohon sawit. hmmm...
Hal
yang membuat saya penasaran di sepanjang jalan yag seperti tol itu adalah, motor bisa masuk (beberapa motor
terlihat di jalan menuju KL Sentral)
KL Sentral-My Hotel, Bukit Bintang.
Banyak
pilihan transportasi yang bisa digunakan ketika sudah di KL Sentral, dari KL
Sentral bus stasion, kami berjalan mencari stasiun monorail. Entah karena
sedang ada pembangunan atau memang sudah begitu, untuk menuju ke KL Sentral
Monorail stasion itu kami harus berjalan keluar dari terminal keluar dan
menyebrang. Letaknya berada di ujung jalan Little India dan ngumpet. Kalau
nggak ngeuh pasti kelewat. Dan bertanya adalah suatu kewajiban saat itu.
Bagusnya kami bertemu dengan orang Malaysia campuran orang Batak. Walaupun
suaranya keras dan menakutkan, beliau dengan sangat jelas memberitahu letak
stasiun itu.
Harga
karcisnya tergantung dari stasiun yang dituju, kembali sok tahu karena kami
akan menuju My Hotel yang berada di Bukit Bintang, kami turunlah di stasiun
Bukit Bintang dengan harga tiket 2.10RM. Oiya, Nurul dan adiknya turun terlebih
dahulu di 1 stasiun sebelum Bukit Bintang yaitu Imbi Stasiun.
Dari
stasiun Bukit Bintang ternyata lumayan berjalan agak jauh sekitar 10 menit
menuju My Hotel itu. Agak deg-degan perjalanan kali ini, karena harus
memperhatikan kondisi mamahnya teman saya juga.
Dengan melewati jalanan yang sedang diperbaiki untuk pembuatan MRT kami
akhirnya sampai di My Hotel. Kamarnya
menyenangkan, bersih, staffnya ramah. Recommended hotel lah. Kami memesannya
via Agoda.com 2 hari sebelumnya.
Sesampainya
di hotel, kami beristirahat sejenak lalu mandi dan siap-siap menjelajahi daerah
sekitar. Pertama kami membiarkan sang ibu istirahat lebih lama. Saya berdua
dengan Dian berjalan di daerah sekitar yang ujungnya tembus ke Jalan Alor
ternyata, tempatnya makan. Tempatnya
rame dengan penjual makanan, kebanyakan makanan adalah Chinese food. Terus
berjalan, saya menemukan tempat makan ala carte dengan ada tulisan halalnya. Hehe,
maklumlah rada hati-hati nyari makanan. Disini banyak banget yang jual makanan
halal. Jadi nggak khawatir banget sebenarnya. Dengan hanya membayar 8RM saya makan
nasi pake daging kari dan teh tarik dan air mineral 600ml.
Melihat
toko tersebut menjual permen saya penasaran pengen nyoba. Dengan 40sen saya
dapet 6 biji.
Kembali
berkeliling, saya dan Dian melihat beberapa makanan unik yang harus kami
nikmati bertiga. Menjemput sang ibu, kami kembali ke jalan tersebut dan
menikmati makanan yang lain. Karena Dian dan ibunya doyan kuliner, kami memesan
seafood kali ini dan tumis kangkung.
Lagi-lagi
makanannya biasa banget. Selesai makan kami berjalan lagi. Dian dan ibunya
membeli daging babi lapis, yang menurut mereka enak. Saya tidak mencobanya.
Lalu kami mencoba es krim turkey yang penyajiannya dengan atraksi si penjual
karena es krimnya begitu pekat. Si penjualnya begitu interaktif dengan
pembelinya dan sesekali menggoda pembelinya dengan pura-pura menjatuhkan es
krimnya yang tidak jatuh dari cone nya.
Selesai
makan es krim, lagi-lagi kedua ibu dan anak itu membeli durian dengan harga
15RM,dan mencoba kue China seharga 1RM. Full sudah perut kami, dan kami
kemudian memutuskan untuk kembali ke Hotel dan beristirahat setelah sebelumnya
menghabiskan dulu durian yang dibeli. J
No comments:
Post a Comment