Tuesday, May 14, 2013

‘May Day’ Trip ( Day 1)


In front of Terminal 3 Soeta

Bertepatan dengan Hari Buruh sedunia, saya melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur, Malaysia bersama dengan teman saya, Dian dan ibunya sebagai hadiah ulang tahun untuk ibunya.
Karena sudah banyak gossip akan ada demo besar-besaran buruh di Jakarta, saya berangkat dari Bogor menuju Bandara Soeta sudah dari jam 7 pagi. Lebih baik nunggu daripada ditinggal pesawat kan?

Sampe di Bandara jam setengah 10 pagi. Ketika menunggu Dian dan ibunya datang, seorang ibu paruh baya menarik tangan saya dan berkata dengan bahasa agak Padang-Padang gitu. Ketika saya tanya ‘ada apa?’ beliau malah menyodorkan handphonenya dan berkata “telepon Buyuang.”

Akhirnya dengan sok tahunya berpikir mungkin beliau minta diteleponin ke anaknya. Dan saya membantunya. Dan sedikit mengobrol, ternyata beliau datang dari Bali dan akan menuju rumah anaknya yang ada di daerah Petamburan.

Ketika saya sedikit bergeser untuk melihat taksi yang datang, beliau menarik tangan saya.mungkin beliau pikir saya akan meninggalkannya. Akhirnya saya mendekatkan diri kembali dengannya agar tidak merasa saya tinggalkan.

Tidak lama sebelum teman saya datang, ternyata anaknya datang beserta cucunya dan disambut senang sekali oleh ibu tersebut. Melihat pemandangan itu barulah saya berpamitan dan menuju teman saya untuk segera masuk ke Departure area.

Before Departure

Masuk ke dalam sekitar jam 10, kami bertiga menuju tempat yang menjual makanan untuk menikmati BRUNCH kami. Sayang sekali makanannya tidak begitu memanjakan lidah, hanya membuat perut kenyang saja. Tepat selesai makan, gate menuju waiting room sudah dibuka. Kami mengantri di bagian imigrasi untuk menuju waiting room area.

Sekitar setengah jam menunggu, kami bertiga mengobrol ngalor ngidul untuk membunuh waktu. Kebetulan keberangkatan kali ini agak terlambat sekitar 15 menit. Untung nggak sampe 2 jam, kalau iya Airasia musti bayar ganti rugi tuh ma kita,hehe.

Oiya, sebelum masuk menuju pesawat kami sempat membeli kopi di coffee machine yang ada di sekitar Zone 4. Sayang sekali uang Rp 5000 kami ditelan begitu saja tanpa ada kopi yang keluar dari mesin tersebut. Mau complain bingung kemana, karena tidak ada penjaganya. Jadii.. yasudahlah.

Beralih ke mesin di sebelahnya dengan menggunakan uang 10.000 (harus bagus dan nggak lecek baru mau ditelen sama mesinnya) barulah kami berhasil mendapatkan dua cup kopi.


Depart and Arrive

Masuk lewat Gate B menuju pesawat, kami rasa diburu-buru. Mungkin karena mereka ngejar waktu keterlambatan. Saya dan mamah teman saya tukar tempat duduk agar beliau bisa duduk bersebelahan dengan anaknya. Duduk di tempat yag terpisah, saya kemudian berkenalan dengan orang Indonesia yang akan jalan-jalan di Malaysia dan Singapur bersama dengan adiknya. Ia bernama Nurul.

Perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 2 jam, saya habiskan setengahnya dengan tertidur untuk mengembalikan sedikit tenaga dan waktu tidur yang kurang. Hehe.

Setengah jam menuju landing, saya kembali mengobrol dengan teman sebelah saya dan bersepakat untuk berjalan bersama menuju hotel kami masing-masing setelah di Malaysia. Seperti tour guide yang diandalkan padahal belum pernah sama sekali ke Kuala Lumpur.

Sampai di LCCT (Low Cost Carier Terminal), Bandara yang masih bagian dari KLIA (Kuala Lumpur International Airport) tapi letaknya sangat berjauhan. Kami mengantri di imigrasi. Ketika pemeriksaan passport mamah teman saya, dan dua teman lainnya harus menempelkan sidik jarinya, sedangkan saya dan teman saya Dian tidak diminta (entah kenapa alasannya). Imigrasinya dibagi dua, foreigner passport dan Malaysian passport.

Mendengar cerita dari teman-teman, katanya ketika masuk imigrasi bagi yang berkerudung itu agak ribet prosesnya dan selalu dianggap TKW sehingga teman saya menyarankan agar berlaku agak sombong dan menggunakan kerudung agak elegan (padahal saya bingung yang elegan itu yang bagaimana, hehe.) Tapi Alhamdulillah ketika masuk imigrasi ke Malaysia, saya tidak  dipersulit.

LCCT-KL Sentral

Keluar dari LCCT, kami mencari loket yang menjual tiket bus. Saya terlalu tinggi membayangkan loket bus di Malaysia, jadi ketika melihat loket bus disana yang terbuat dari kayu-kayu yang ukurannya juga ngga gede membuat saya curiga, ini calo apa bukan ya? Karena katanya mendengar Kuala Lumpur itu sudah lebih maju dari Jakarta. Akhirnya kami menggunakan Aerobus menuju KL Sentral (pusat transportasi di Malaysia) dengan harga 8RM (Kurs 1RM Rp3200, tahun 2013). Berdasarkan informasi yang sudah kami dapatkan dari berbagai blog, menuju hotel kami masing-masing memang harus menuju KL Sentral lalu naik monorail. Sepanjang jalan menuju KL Sentral pemandangan yang bisa dilihat dari kanan kiri jalan tolnya adalah pohon sawit. hmmm... 

Hal yang membuat saya penasaran di sepanjang jalan yag seperti tol itu adalah, motor bisa masuk (beberapa motor terlihat di jalan menuju KL Sentral)

KL Sentral-My Hotel, Bukit Bintang.

Banyak pilihan transportasi yang bisa digunakan ketika sudah di KL Sentral, dari KL Sentral bus stasion, kami berjalan mencari stasiun monorail. Entah karena sedang ada pembangunan atau memang sudah begitu, untuk menuju ke KL Sentral Monorail stasion itu kami harus berjalan keluar dari terminal keluar dan menyebrang. Letaknya berada di ujung jalan Little India dan ngumpet. Kalau nggak ngeuh pasti kelewat. Dan bertanya adalah suatu kewajiban saat itu. Bagusnya kami bertemu dengan orang Malaysia campuran orang Batak. Walaupun suaranya keras dan menakutkan, beliau dengan sangat jelas memberitahu letak stasiun itu.

Harga karcisnya tergantung dari stasiun yang dituju, kembali sok tahu karena kami akan menuju My Hotel yang berada di Bukit Bintang, kami turunlah di stasiun Bukit Bintang dengan harga tiket 2.10RM. Oiya, Nurul dan adiknya turun terlebih dahulu di 1 stasiun sebelum Bukit Bintang yaitu Imbi Stasiun.

Dari stasiun Bukit Bintang ternyata lumayan berjalan agak jauh sekitar 10 menit menuju My Hotel itu. Agak deg-degan perjalanan kali ini, karena harus memperhatikan kondisi mamahnya teman saya juga.  Dengan melewati jalanan yang sedang diperbaiki untuk pembuatan MRT kami akhirnya sampai di My Hotel. Kamarnya menyenangkan, bersih, staffnya ramah. Recommended hotel lah. Kami memesannya via Agoda.com 2 hari sebelumnya.

Sesampainya di hotel, kami beristirahat sejenak lalu mandi dan siap-siap menjelajahi daerah sekitar. Pertama kami membiarkan sang ibu istirahat lebih lama. Saya berdua dengan Dian berjalan di daerah sekitar yang ujungnya tembus ke Jalan Alor ternyata, tempatnya makan. Tempatnya rame dengan penjual makanan, kebanyakan makanan adalah Chinese food. Terus berjalan, saya menemukan tempat makan ala carte dengan ada tulisan halalnya. Hehe, maklumlah rada hati-hati nyari makanan. Disini banyak banget yang jual makanan halal. Jadi nggak khawatir banget sebenarnya. Dengan hanya membayar 8RM saya makan nasi pake daging kari dan teh tarik dan air mineral 600ml.

Melihat toko tersebut menjual permen saya penasaran pengen nyoba. Dengan 40sen saya dapet 6 biji.
Kembali berkeliling, saya dan Dian melihat beberapa makanan unik yang harus kami nikmati bertiga. Menjemput sang ibu, kami kembali ke jalan tersebut dan menikmati makanan yang lain. Karena Dian dan ibunya doyan kuliner, kami memesan seafood kali ini dan tumis kangkung.

Lagi-lagi makanannya biasa banget. Selesai makan kami berjalan lagi. Dian dan ibunya membeli daging babi lapis, yang menurut mereka enak. Saya tidak mencobanya. Lalu kami mencoba es krim turkey yang penyajiannya dengan atraksi si penjual karena es krimnya begitu pekat. Si penjualnya begitu interaktif dengan pembelinya dan sesekali menggoda pembelinya dengan pura-pura menjatuhkan es krimnya yang tidak jatuh dari cone nya.

Selesai makan es krim, lagi-lagi kedua ibu dan anak itu membeli durian dengan harga 15RM,dan mencoba kue China seharga 1RM. Full sudah perut kami, dan kami kemudian memutuskan untuk kembali ke Hotel dan beristirahat setelah sebelumnya menghabiskan dulu durian yang dibeli. J

No comments:

Post a Comment