Monday, May 25, 2015

Working Area ~ a Restaurant

Makan siang bersama menjadi kebiasaan yang tidak disengaja yang selalu kami lakukan bersama-sama.

Biasanya, saya atau Mas HR akan memesan makanan di kantin untuk semua staff dan kami akan makan bersama di meja meeting ruangan project. Banyak macam hal yang kami bicarakan, mulai dari makanan, kejadian-kejadian yang sedang terjadi, dan pokoknya apapun itu.

Hingga suatu saat, salah satu obrolan adalah mengenai salah satu restaurant negara asing yang ada cabangnya di Indonesia.

"Fina sudah coba masakan **?" tanya K san memulai pembicaraan

"Belum, Pak? Bapak udah nyoba?" tanya saya

"Belum juga, saya mau minta Fina coba, nanti saya anterin. Fina makan, sepertinya menarik, ada tarian-tariannya, dan orang-orangnya langsung dari negara sana"

"Kenapa Bapak tidak mau coba sendiri saja? Bapak takut diculik ya?"

K san tertawa.

"Ini sih, bapak menyodorkan saya supaya ditangkap dan dibawa kesana." Saya menimpali.

K san tertawa "Saya sudah tua sih, jadi kemungkinan itu kecil, hanya saja harganya mungkin yang akan dimahalin."

Gue mengangguk-ngangguk saja.

"Yasudah, saya coba, Pak nanti Jumat, kalau di hari Senin, saya tidak kembali. Bapak wajib ke kantor polisi untuk lapor kehilangan ya"

Tersirat wajah khawatir dari K san ini.

Ini mau makan aja pake acara harus bikin wasiat segala sih. Hahahhaa.

***

Saat selesai weekly meeting, kami kemudian berbincang-bincang ringan.

"Jadi kapan kita makan di **?" tanya Mas HR yang membuat beberapa orang lainnya tertarik

"Oh, saya belum coba. Mau coba?" tanya T san, our boss. " Saya dengar dekat apartment saya ada satu cabangnya."

"Apa yang menarik?" Tanya NH san. our National Expert.

"Ada perempuan asli yang menari-nari." Jawab T san

"Wah, menarik tuh, direncanakan, Fin." ajaknya.

"Bapak nih." Kata saya mengetahui maksudnya."So, jadi kapan?" kata saya melanjutkan rencana ini.

"Saat T san pulang saja, minggu ini kan orang-orang 'berterbangan'?"

"OK, nanti kita pergi"

***

PHP (pemberi harapan palsu) itu tidak baik, dan bapak-bapak disini terkadang seperti itu. Atau mungkin sayanya sih yang selalu terlalu berharap. Well, dua-duanya tidak baik.

Sampai hari dimana kita berkumpul dan saya mengajak untuk makan di restaurant yang sudah dibicarakan, saya mencoba mereservasi tempat, dan ternyata restaturant itu tutup. Hiks.

Hanya buka di satu cabang yang jaraknya jauh dari kantor. Jadi harapan makan bersama kembali hilang. Kayanya muka saya terlihat kecewa dan ingin sekali makan bersama experts, karena memang sudah lama. Saya benar benar rindu saat kami tertawa bersama-sama sambil makan.

Akhirnya the one and only Boss yang bisa baca muka saya berkata "Tidak harus kesana ya, kita Gandaria City aja ya"

Saya dalam hati "Yipppppiiieeee!!!"

Dan akhirnya kami pergi ke restaurant Korea.

No comments:

Post a Comment