Tuesday, October 14, 2014

Dad, I Love You too as much as I Love Mom...

Pernah ngga sih kalian marah sama ayah sendiri? Entah karena memang ngerasa dikekang, atau karena sudah merasa berasa bukan anak kecil lagi, sehingga terkadang apa yang dilakukan ayah berlebihan.

Saya pernah. Saya memanggil abah kepada ayah saya.
Karena mama sakit, saya terkadang lebih mencintai mama dibanding abah.
Padahal keduanya berhak dicintai dengan kadar yang sama.
Mama dengan segala perilakunya yang selalu ingin mengabulkan keinginan saya padahal saya tahu batas kemampuannya, selalu menjadi prioritas utama dalam hidup saya.
Kalau abah, karena memang sedari kecil beliau keras mendidik kami, saya sedikit menjaga jarak, dan memang segan dengan beliau karena selalu benar kalimat-kalimat yang dikeluarkannya. Tetapi saya tetap mencintainya walaupun seperti yang sudah saya bilang, lebih besar cinta saya pada mama daripada kepada abah.

Beberapa hari yang lalu, saya sedikit marah lagi kepada beliau, padahal memang saya yang salah. Tapi ya itu, karena merasa bukan anak kecil lagi, saya tidak begitu suka dengan perlakuannya. Tapi sekarang saya sadar, seberapapun menyebalkan sikapnya itu, semuanya adalah untuk kebaikan saya, anaknya.

Jadi ceritanya, karena lelah (ini alasan) saya kesiangan bangun untuk Sholat Shubuh. Padahal mama sudah telpon, sms berkali-kali, menggebrak-gebrak atap rumah bawah agar kami (saya dan adik saya) bangun. Tapi tetap kami tidak bangun.

Lalu kemudian, ketika turun ke rumah bawah, abah dan mama sudah menunggu di bawah. Mama sudah pasti akan diam jika kami akan 'dimarahi' abah.

Abah bertanya "Kamu lagi sholat ngga?"

dengan tertunduk aku jawab " Sholat."

"Trus sekarang jam berapa? Shubuh juga sudah habis waktunya." katanya sedikit berteriak. Well, abah memang suaranya lantang. Kadang suara ini pula yang membuat mama kaget dan sakit hati sepertinya.

Setelah wudhu aku berlari ke rumah atas dan sholat.
"Qadha niatnya. Waktunya juga sudah habis!" teriak abah dari rumah bawah.

Saya termenung, lagi-lagi saya yang sudah merasa besar ini masih ketinggalan sholat. Mau jadi apa hidup ini coba, mau bawa apa ke Akhirat kalau sholat lima waktu saja ngga on time! Dada saya terasa sesak.

"Pida ! Pina, Turun semua !! Abah mau bicara." Teriak abah lagi.
Saya turun setelah adikku.

Kami duduk di bale rumah bawah, bersiap menerima (katakanlah) amarah Abah karena kasih sayangnya, ini yang selalu saya tahu.

"Kenapa jadi begini sih? kita ini belum ada apa-apanya. Belum sukses, belum kaya, belum mapan, udah berani-beraninya ninggalin sholat. Gimana kalau sudah sukses, gimana kalau sudah kaya? Nih, denger, Sholat sekali waktu ditinggalin aja, dosanya udah besar. Ya Alloh, kenapa jadi begini. Abah mah sakit hati kalau kalian, anak-anak abah meninggalkan kewajiban sholat. Jangan bilang ngaji deh, sholat aja ketinggalan, gimana ngaji."

Kami masih menunduk ketakutan mendengarkan kebenara-kebenaran ucapan abah. Abah sakit hati, saya lebih sakit karena menjadi penyebab kesakit hatiannya.

"Dulu setiap minggu bisa kok kalian pergi ke Majlis, kenapa sekarang abah liat sudah tidak pernah lagi? Tiduuur terus! Ya Alloh, mau jadi apa ini kalian teh." Abah orang sunda, sebenarnya semua kalimat disini terucap dengan Bahasa Sunda, saya translate saja.


Kemudian abah mengetes kami mengenai Syahadat, dan hanya sedikit yang bisa kami jawab. Kami merasa bodoh.
Abah kembali merasa sedih. Beliau setiap shubuh sering mengajarkan ngaji kepada anak-anak di sekitar rumah, sedangkan anak-anaknya, semua ajaran yang pernah diajarkannya, hampir melebur dalam ingatannya.

Saya bisa sekali membayangkan betapa kecewanya kepada kami. Begitupun kami kepada diri kami sendiri.

Setelah itu abah kembali berkata "Mulai sekarang, Pina wajib pulang setiap hari Jumat. Gimana di kosan kamu, di rumah aja ketinggalan. Nanti siang, kalian berdua ke pasar, beli bel yang bagus, yang suaranya nyaring, terus beli helmet, dan pelampung air"

Bel? untuk apa bel?

"Bel bukan untuk tamu, tapi untuk bangunin kalian di rumah atas."

Kami menahan tawa kami.

Saya tahu kemarahannya sudah berakhir. Tapi kami masih tetap saja malu.

Tidak lama setelah itu, Abah datang ke rumah atas, membawa uang 1 juta rupiah.
"Ini untuk beli pelampung air, helm, bell dan lain-lain." Kata abah kepada adikku lalu kemudian turun lagi.

"Pina, ini uang banyak amat, yang abah suruh beli paling cuma 500 ribu, itu juga masih ada sisa. Ini buat apa lagi sisanya?"

Saya semakin tertunduk sedih.
"Itu buat sepatu, kemarin Pina minta dibeliin sepatu sama abah"

Dan kami berdua menghembuskan nafas bersama-sama.

Abah, I Love You.. We Love You...

No comments:

Post a Comment